Pengusaha tolak pelonggaran batasan produksi rokok golongan menengah

Selasa, 20 September 2016 | 08:41 WIB ET

MALANG, kabarbisnis.com: Para pelaku industri rokok di Tanah Air meminta agar pemerintah menolak usulan pelonggaran batasan produksi SKM (sigaret kretek mesin) golongan II dari 0-2 miliar batang menjadi 0-3 miliar batang per tahun.

Ketua Harian Forum Masyarakat Industri Rokok Seluruh Indonesia (Formasi) Heri Susianto mengatakan, usulan tersebut tidak tepat sasaran dan merugikan perusahaan rokok lainnya. Sebab, perusahaan rokok yang mampu memproduksi hingga 3 miliar batang per tahun seharusnya layak naik kelas menjadi golongan I.

"Mereka secara finansial dan infrastruktur sangat siap jika naik ke golongan I," ujar Heri Susianto di Malang, Senin (19/9/2016).

Dia menambahkan, kebijakan ini justru akan merugikan pemerintah, sebab perusahaan rokok yang mampu memproduksi hingga 3 miliar batang per tahun bisa menikmati tarif cukai lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan golongan I. Sehingga, penerimaan pemerintah dari cukai rokok akan terganggu.

Selain itu, pangsa pasar perusahaan rokok golongan I akan tergerus oleh perusahaan golongan II yang mampu memproduksi rokok hingga 3 miliar batang per tahun. Padahal pangsa pasar rokok tidak bertambah, malahan terus berkurang.

"Mereka kuat dari sisi modal dan infrastruktur, namun menikmati tarif cukai yang sama. Kalau potensi penerimaan negara dari cukai bermasalah, tentu realisasi penerimaannya juga akan bermasalah juga, yakni bisa tidak optimal," ujarnya.

Heri berharap persaingan antar dan golongan PR bisa lebih adil dan proporsional. Penerimaan negara dari cukai rokok juga diharapkan bisa lancar dan tidak terganggu dengan aturan main yang proporsional dan adil. kbc10

Bagikan artikel ini: