Buyers UE, Rusia dan Iran jaring pemasok rumput laut olahan RI

Minggu, 25 September 2016 | 21:12 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Sejumlah buyer dari negara Uni Eropa  (UE) , Rusia dan Iran tengah mencari  agar dan karaginan di sebagai bahan baku untuk kebutuhan industri. Sebanyak 12 usaha pengolahan rumput laut, empat diantaranya berada di Provinsi Jawa Timur akan dibidik untuk menjadi mitra bisnisnya.

 

Hal ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan volume dan nilai ekspor rumput laut olahan Indonesia  langsung ke pasar. Demikian benang merah dari foru Foreign Buyer Mission (FBM) yang merupakan kerjasama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP dan Swiss Import Promotion Program (SIPPO) di Jakarta, kemarin.

 

Direktur Akses Pasar dan Promosi Ditjen Peningkatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (PDSPKP KKP)  Innes Rahmania mengatakan sembilan orang dari enam perusahaan importir karaginan dan agar siap melakukan komitmen bisnis dengan 12 unit pengolahan rumput laut yang tersebar di Tanah Air.Enam perusahaan karaginan dan agar ini berasal dari Jerman, Swiss, Rusia dan Iran.

 

Sementara 12 unit pengolahan rumput laut tersebut empat diantaranya berdomisili di Jatim yakni PT Algalindo Perdana, PT Indoseaweed, PT Surya Indoalgas dan PT Java Biocolloid . Selain itu, PT Agar Swallow PTGalic Arthabahari, PT Hydrocolloid, PT Agarindo Bogatama, PT Gumindo Perkasa Industri (Jakarta, Jawa Barat dan Banten).

 

Sementara di Pulau Jawa , PT Indoking (Sumatera Utara) dan PT Wahyu Putra Bimasakti dan PT Cahaya Cemerlang (Sulawesi Selatan).Menurut Innes buyer akan menyambangi sejumlah unit pengolahan rumput laut ini selama 24-28 September ini.

 

Buyers dijadwalkan akan  mengunjungi Demfarm rumput laut jenis gracilaria yang dibawah proyek smartfish kerjasama UNIDO dan KKP di Takalar dan Balai Budidaya Laut Lombok. Ini untuk meyakinkan buyers bahwa industri pengolahan rumput latu di Indonesia didukung pasokan bibit gracilaria dan cottonii yang bermutu.

“Sekaligus menjawab pertanyaan para buyer, bahwa kita sudah memenuhi asepek traceability (sistem ketelusuran bai para pelaku usaha perikanan pada setiap mata rantai nilai produk perikanan red).Termasuk melakukan budidaya perikanan yang baik,” terangnya.

Juliana Klose, Project Manager Fish +Seafood SIPPO mengatakan fasilitasi guna mendatangkan buyers produk perikanan seperti ini telah dilakukan sejak 2013.Hanya saja , Juliana tidak dapat menyebutkan secara detail sudah berapa besar transaksi yang dihasilkan dari kegiatan FBM tersebut.

Juliana menyebutkan partisipasi buyer Rusia ke Indonesia ini merupakan yang kedua kalinya. Tahun 2015 lalu, Rusia ini  mengimpor rumput laut olahan dengan menggunkan kontainer berukuran 20 ft. Rusia mengimpor rumput laut olahan dari Indonesia sebanyak 60 ton.

Head of Economic Development Cooperation (SECO) Embassy of Switzerland Martin Stottele mengatakan karaginan dibutuhkan di industri pangan seperti es krim, pizza, bir, sari buah. Dasar penggunaan karaginan dalam industri pangan adalah kemampuannya membentuk  gel dengan ion-ion tertentu atau hidrokolid seperti halnya gula.

Diluar keperluan itu, karaginan juga dibutuhkan sebagai bahan baku farmasi (pasta gigi dan obat) hingga industri kosmetik, tekstil dan cat.Karenanya, masing masing disetiap segmen pasar dan negara importir berbeda jenis rumput laut dan volume kebutuhannya..

Martin mengatakan Indonesia dapat memetik peluang apabila dalam negoisasi nanti membuahkan komitmen dagang.Pasalnya, selama ini mayoritas ekspor rumput laut Indonesia diekspor ke China dan Filipina  dalam bentuk basah (mentah).

Namun, kedua negara tersebut meraup nilai tambah karena sudah menjadi rumput laut olahan yang selanjutnya diekspor ke Uni di Eropa.Dengan kedatangan buyers menyambangi langsung industri pengolahan, maka pelaku usaha nasional dapat langsung mengekspor ke negara tujuan.”Tidak perlu lagi ‘transit’ ke China,” terangnya.

Catatan Kementerian Perdagangan yang bersumber Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan ekspor Indonesia mencapai US $ 160 ,41 juta.Ekspor tertinggi terjadi pada 2014 yang mencapai US$ 206,3 juta. Sementara ekspor produk olahan sebesar US $ 45,7 juta dengan volume 5.944 ton.

Total produksi rumput laut Indonesia mencapai 11,3 juta ton.Indonesia merupakan pemasok utama dunia komoditas rumput laut. Lima negara pemasok rumput laut terbesar dunia adalah Indonesia, Korea Selatan, Chili, China dan Irlandia.

Data Trademap (2016) menyebutkan ekspor rumput laut Indonesia untuk konsumsi menempati peringkat ke -2 dunia, untuk non konsumsi berada di peringkat ke 2. Sedangkan ekspor produk agar Indonesia berada di peringkat ke 7 dan karaginan berada di peringkat 8.kbc11

Bagikan artikel ini: