BJ Habibie prihatin ahli dirgantara Indonesia dimatikan

Senin, 9 November 2009 | 19:46 WIB ET

JAKARTA - Mantan Presiden BJ Habibie prihatin dengan perginya para ahli dirgantara Indonesia, pasca dilakukan PHK (putusan ubungan kerja) secara massal oleh PT DI (Dirgantara Indonesia). Mengingat, saat ini ahli dirgantara Indonesia itu bekerja di perusahaan kedirgantraan di Malaysia, Hong Kong, Turki, Brazil, dan sejumlah negara di belahan Benua Asia dan Eropa.

"Perginya ahli kedirgantaraan Indonesia, jangan dianggap sepele diremehkan. Karena mereka sudah bersusah-payah menuntut ilmu

kedirgantaraan di luar negeri, dibeayai negara yang sangat mahal. Sayang, tatkala perusahaan pesawat terbang mulai berkembang, justru malah dimatikan. Mereka itu mubadzir kalau tidak segara dimanfaatkan bidang keilmuannya," ungkap BJ Habibie dalam acara silaturahmi tokoh pers menyambut 10 Tahun The Habibie Center Jakarta, Senin (9/11/09).

Sekitar 16.000 karyawan PT DI (Dirgantara Indonesia), 3.000 di antaranya mengenyam jenjang pendidikan Strata 2 dan 3 mengalami nasib di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Setelah di PHK, justru banyak tawaran kerja di perusahaan penerbangan di negara Asia, Eropa bahkan Amerika Latin. Para ahli dirgantara Indonesia ini, kini lebih memajukan industri penerbangan bagi negara lain bukan di negaranya sendiri.

"Dengan larinya mereka bekerja di luar negeri, perkembangan Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), khususnya, menyangkut

perkembangan teknologi kedirgantaraan di Indonesia menjadi mundur. Tak ada kebanggaan bahwa anak negeri ini mampu membikin pesawat sendiri. Padahal, dulu PT DI sudah mampu menghasilkan produk unggulan pesawat yang dapat dibanggakan, CN 250," kata mantan Menristek di era Presiden Soeharto.

BJ habibie berobsesi ingin memulangkan para ahli kedirgantraan Indonesia untuk kembali ke tanah air. Tentunya, dengan cara menghidupkan dan menggairahkan kembali perusahaan pesawat terbang di Indonesia.

"Saya sangat berkepentingan untuk mengajak kembali putra-putra terbaik bangsa ke tanah air. Tentunya dengan menghidupkan

kembali perusahaan pesawat terbang PT DI. Jangan sampai begitu tiba lagi di Indonesia, ternyata perusahaan kedirgantaraan ini tak hidup dan mereka tentu akan ngangur, nah ini jangan sampai terjadi," paparnya.

BJ Habibie sempat mencontohkan kasus yang terjadi di Jerman ketika kalah perang. Negara tersebut dilarang membuat pesawat terbang. Ada beberapa opsi waktu itu, teknokratnya ada yang ke Inggris, Perancis atau Belanda. Tapi, tatkala Jerman diizinkan mendirikan perusahaan pesawat terbang lagi, teknokratnya diminta pulang kembali. "Kenapa Indonesia tidak bisa melakukan seperti Jerman," ungkapnya. Kbc10

Bagikan artikel ini: