Kadin: Industri kreatif jadi subsitusi lapangan kerja di Surabaya

Rabu, 19 Oktober 2016 | 16:38 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Keberadaan Surabaya sebagai kota perdagangan dan jasa harus diikuti oleh langkah strategis dengan menumbuhkan lapangan kerja di berbagai sektor ekonomi yang menjadi alternatif baru, yaitu sektor industri kreatif dan Usaha Kecil dan Menengah (UMKM).

Untuk itu, dalam Rapat Kerja Kadin Surabaya kali ini merekomendasikan agar Pemerintah Kota Surabaya lebih berpihak kepada peningkatan pertumbuan industri kreatif dengan memberikan infastruktur tambahan. Demikian dikatakan Ketua Kadin Surabaya, Jamhadi di Hotel Shangrila Surabaya, Rabu (19/10/206).

Menurut Jamhadi, saat ini kontribusi industri kreatif terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Surabaya hanya dikisaran 5,71% dari total PDRB Surabaya yang mencapai Rp 300 triliun di tahun 2015 Padahal potensinya masih sangat besar.

Industri perfilman misalnya, saat ini di Indonesia hanya ada sekitar 1.170 studio film. Padahal Presiden Indonesia, Joko Widodo menargetkan jumlah studio film di seluruh Indonesia hingga tahun depan mencapai 5.000 studio film. Bahkan Jokowi tidak memasukkan industri ini dalamdaftar "negative investment", sehingga sahamnya bisa dimiliki asing 100% asal 60% konten dari film yang dirilis adalah konten lokal. "Dan Surabaya banyak yang bisa digali, bisa dieksplorasi," tegasnya.

Selain perfilman, industri kreatif yang bisa dikembangkan adalah industri fasion, industri IT, arsitektur dan kesenian lainnya. Sementara industri kreatif yang sudah berkembang di Surabaya masih diseputar sektor gastronomi atau industri makanan dan minuman.

"Kami menargetkan sumbangan industri ini akan naik menjadi 30% dari saat ini yang hanya 5,71% terhadap PDRB Surabaya. Ini harus dikejar karena sektor industri di Surabaya sedikit demi sedikit dikurangi dan telah dialihkan ke berbagai kota di sekitar Surabaya. Kreatifitas harus ada di segala sektor usaha dan harus ada substitusi usaha lain," tegasnya.

Menurut Jamhadi, bagaimanapun juga, Surabaya harus memberikan lapangan kerja bagi penduduknya secara penuh. Langkah ini harus dilaksanakan agar globalisasi tidak akan mengerus ekonomi rakyat. Masyarakat Surabaya harus tetap menjadi tuan di rumah sendiri.

Untuk itu, Pemkot Surabaya harus memberikan infastruktur tambahan. Dalam hal pendidikan di sekolah misalnya, harus dibekali dengan kurikulum berbasis kreatif. Selain itu, Balai Latihan Kerja (BLK) di Surabaya juga harus didesain dan dilengkapi dengan fasilitas yang bisa meningkatkan kreatifitas anak muda.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Walikota Surabaya, Wisnu Sakti Buana mengatakan, sejauh ini pertumbuhan ekonomi Surabaya cukup tinggi, mencapai 5,5%. Tingginya pencapaian tersebut disebabkan 90% ekonomi Surabaya ditopang oleh sektor informal, khususnya UMKM. Dan sektor informal ini terbukti paling tahan terhadap gejolak ekonomi.

"Pembinaan sudah kami lakukan, harusnya pembiayaan didukung pula oleh perbankan, utamanya Bank Jatim. Sementara pasarnya, Kadin yang membuka. Untuk itu kami berharap, dalam agenda Raker Kadin Surabaya ini akan menelurkan rekomendasi mendasar dalam pengembangan industri informal, industri kreatif dan UMKM," pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: