PLTU Tanjung Awar-Awar mulai beroperasi, PLN siapkan alternatif skema pendistribusian listrik

Rabu, 26 Oktober 2016 | 07:16 WIB ET

TUBAN, kabarbisnis.com: Beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Awar-Awar Tuban Jawa Timur semakin memperkuat ketahanan listrik nasional. Bahkan surplus tenaga listrik di wilayah Jawa Timur menjadi kian besar. Jika sebelumnya surplus listrik Jatim masih sekitar 2.000 MW, dengan masuknya pasokan listrik dari PLTU Tanjung Awar-Awar ini maka surplus menjadi sekitar 2.600 MW hingga 2.700 MW.

"Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan bersama PLN UIP JBTB II berupaya meng-kriet deman atau konsumen agar proyek yang sudah dibangun dengan investasi yang besar ini jangan sampai tidak dimanfaatkan," tegas General Manager Unit Induk Pembangun (UIP) Jawa Bagian Timur dan Bali II (JBTB II), Eko Priantono saat acara sosialisasi dan pengenalan PLTU Tanjung Awar-Awar kepada siswa di daerah ring satu Tuban dan Media di Tuban, Selasa (2/10/2016).

Bekerjasama dengan Institute Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan dan PLN mulai mengenalkan motor listrik. Langkah ini tidak hanya menjadi salah satu solusi pendistribusian surplus tenaga listrik yang cukup besar, tetapi juga untuk menjawab isu linkungan.

"Dengan motor listrik, cukuplah polusi di pembangkit, sementara masyarakat menggunakan  motor listrik yang ramah lingkungan dan juga sangat efisien," tambahnya.

Sementara itu ia juga mengungkapkan bahwa saat ini pendistribusian listrik yang dihasilkan PLTU Tanjung Awar-Awar masuk melalui GI Tuban untuk memasok listrik di wilayah Gresik, Lamongan dan Bojonegoro, diantaranya ke pabrik Semen Indonesia dan Holcim. Selain itu suplai juga masuk ke GI Babat diteruskan ke Ngimbang dan masuk jaringan bertegangan 500 KV untuk menyupport listrik di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat.

"Kalau produksinya, sangat tergantung pada permintaan dari teman-teman yang ada di PLN P2B. Jika permintaan dari mereka besar maka produksinya bisa dimaksimal 2X350 MW. Tetapi untuk sekarang, disaat beban puncak kami diminta berproduksi sekitar 600 MW ," tambahnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa pembangunan PLTU Tanjung Awar-Awar yang masuk dalam program 35.000 MW ini sebagai antisipasi pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, terlebih Jawa adalah pulau dengan pertumbuhan beban listrik paling tinggi karena menjadi pusat industri, bisnis dan pemerintah.

"Walaupun Jatim masih mengalami surplus besar, tetap perlu tambahan pembangkit untuk mengimbangi kebutuhan listrik masyarakat di masa mendatang," pungkasnya.

Seperti diketahui, PLTU Tanjung Awar-Awar adalah salah satu mega proyek 35.000 MW yang sudah beroperasi. Proyek yang pembangunannya digarap oleh konsorsium JO Sinomech-CNEEC dan PT Penta Adi Samudra ini menelan investasi sekitar Rp 6 triliun. Proyek ini dibangun di atas lahan seluas 80 hektar dan terdiri dari dua unit. Unit I mulai beroperasi pada Januari 2014 dan Unit II mulai beroperasi pada Juli 2016 dengan keseluruhan kapasitas mencapai 2X350 MW.kbc6

Bagikan artikel ini: