Katrol produksi, RI seriusi kembangkan rumput laut kultur jaringan

Senin, 7 November 2016 | 21:23 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia berupaya menjadi produsen utama rumput laut dunia. Caranya dengan mengembangkan rumput laut hasil kultur jaringan. 

Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto menuturkan melalui keberadaan bibit rumput laut kultur jaringan jaringan per kawasan akan mengatrol hasil produk secara berkesinambungan. Bibit rumput laut kultur jaringan memiliki keunggulan baik dari segi kandungan karaginan maupun pertumbuhan yang lebih cepat.

Dengan strategi pengembangan budidaya kawasan maka pemerintah akan membuat manajemen tanam."Kita akan lebih mudah menjamin kesinambungan pasokan karena hasil panen rumput laut dapat diatur waktunya,"ujar Slamet di Jakarta,Senin (6/11/2016)

Pengembangan budidaya rumput laut kuktur jaringan merupakan hasil kerjasama KKP dan SEAMEO Biotrop. Untuk pengembangbiakan bibit akan dilakukan sejumlah balai KKP.

Dia mengatakan pihaknya akan merombak semua budidaya rumput laut milik pembudidaya dengan bibit hasil kultur jaringan.Tahun depan, setidaknya dibutuhkan bibit rumput laut kultur jaringan sebanyak 1,1 juta ton.

"Tahun depan,Kita akan ganti semua. Kira-kira butuh luasan area 6.500 hektar. Yang jelas ini akan ada kenaikan dari 11,4 juta ton naik jadi 13 juta ton. Artinya ada kenaikan hampir 2 juta ton untuk total produksi," kata Slamet di Jakarta,,Senin (7/11/2016).

Slamet mengklaim semua pembudidaya rumput laut di berbagai wilayah di Indonesia siap menerima bibit tersebut untuk membantu mewujudkan target produksi tahun 2017. Slamet juga mengklaim penggunaan bibit ini tahan terhadap cuaca dan dapat masa panen lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan bibit konvensional.

Untuk pengadaan bibit rumput laut kultur jaringan ini, KKP akan menggelontorkan anggaran senilai Rp 8,4 miliar. Nantinya dana itu juga akan digunakan untuk membangun laboratorium untuk pengembangan produk kelautan lainnya di balai-balai yang ada di daerah. 

Slamet tidak ingin lagi pembudidaya ada yang menggunakan bibit rumput laut dengan menyisihkan hasil panennya. Semuanya, kata Slamet, harus menggunakan bibit hasil kultur jaringan tersebut.

"Kita akan mengubah mindsetnya pembudidaya bahwa yang diubah bukan hanya bibitnya saja. Sebab biasanya dari panen diambil sebagian untuk bibit baru sisanya dijual. Nanti itu tidak ,100% dijual nah bibit didatangkan dari kebun bibit yang baru lagi," sambungnya.

Kendati begitu,aku Slamet untuk mengimplementasikan dan mensosialisasikan program ini pihaknya menemui sejumlah kendala yaitu keterbatasan sumber daya manusia. Khususnya tenaga pendamping profesional yang mendampingi para pembudidaya rumput laut ketika memanfaatkan bibit kultur jaringan.

Kesempatan sama Direktur Seameo Biotrop Irdika Mansur mengatakan, banyak keunggulan yang didapatkan dari ‎pengembangan bibit rumput laut melalui teknik kultur jaring ini. Pertama, produksi rumput laut yang meningkat hingga 3 kali lipat dibandingkan dengan teknik konvensional.

"Kegiatan ini terkait pengembangan bibit rumput laut dengan kultur jaringan. Ini bisa tingkatkan produksi 2-3 kali lipat dibanding konvensional," kata dia.

Kedua, daya tahan tanaman rumput laut lebih baik lama dibandingkan dengan bibit konvensional. "Kalau musim sedang tidak menguntungkan, biasanya rumput laut ini akan terbawa ombak. Tapi dengan ini bisa diselamatkan," terangnya.

Dengan pengembangan teknik ini, lanjut Irdika roduksi rumput laut nasional akan semakin meningkat. Dampaknya, ekspor rumput laut Indonesia‎ juga akan melonjak tiap tahunnya.

"Indonesia saat ini produsen rumput laut nomor 1 di dunia. Pengembangan bibit ini mulai 2010. Salah satu problem kita kan ketersediaan bibit, dengan bantuan Ditjen Perikanan Budidaya, sekarang  sudah tersebar di seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Papua," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: