RI jadi lumbung pangan dunia di 2045, mampukah?

Rabu, 30 November 2016 | 07:23 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia bertekad  menjadi lumbung pangan dunia di tahun 2045. Kendati saat ini keanaekaragaman hayati tersedia secara potensial untuk dikembangkan sebagai komoditas pangan yang memiliki nilai ekonomi.

Adopsi inovasi pertanian guna menyediakan kebutuhan pangan secara efisien pada masyarakat yang jumlahnya terus bertambah menjadi tantangan semua pemangku kepentingan. Demikian Kepala Badan Litbang Kementerian Pertanian M Syakir menjawab kabarbisnis.com usai Rapat Kerja Litbang Pertanian II 2016 di Bogor, Jawa Barat, Selasa (29/11/2016).

Syakir mengatakan apabila Indonesia berkeinginan mewujudkan sebagai lumbung pangan dunia di tahun 2045 maka pertama yang harus ditelaah adalah mengoptimalkan sumber daya lahan yang ada.Luas lahan yang potensial dijadikan lahan pertanian ditaksir mencapai 60 juta hektare (ha), sekitar 8,2 juta ha merupakan areal lahan pertanian yang ditanami padi,jagung dan kedelai.

Namun, saat ini mayoritas areal lahan pangan itu memiliki C organik dibawah 2 % akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Balitbang Kementan  menawarkan teknologi biokomposer guna merehabilitasi fungsi hara,menyuburkan kesuburan tanah sekaligus mampu mengefisiensikan penyerapan kompos pada lahan.

Sebagai satu kesatuan upaya peningkatan produktivitas, Syakir juga menerapkan penggunaan pestisida organik. "Bio protector mampu memacu pertumbuhan tanaman," kata Syakir.

Menurut Syakir adopsi inovasi teknologi sarana produksi ini menjadi prasyarat peningkatan produktivitas suatu varietas unggul benih (VUB) padi yang adaptif terhadap spesifik lokasi.Penerapan adopsi teknologi tersebut dikhususkan ke lahan irigasi teknis seluas lebih 4 juta ha.

Berkaitan adopsi teknologi guna pemulihan sumber daya lahan ini, ,sambung Syakir ,Balitbang Pertanian sudah merekomendasikan kepada Ditjen Tanaman Pangan menjadi satu paket program jarwo super . Program ini akan dikembangkan seluas 10.000 hektare (ha) di 10 provinsi mulai 2017.

Meski budidaya tanaman padi lebih difokuskan pada lahan pertanian yang sudah ada, terjadi lompatan produksi rerata 6 persen per tahun dalam dua tahun terakhir. Tahun 2015, produksi padi naik sebesar 6,4% atau setara 75,39 juta ton gabah kering giling (GKG).

Adapun, kenaikan produksi tahun ini diprediksi mencapai 79,4 juta ton GKG.Padahal di tahun 2014 produksi padi nasional mengalami minus.

Syakir menambahkan ke depan penerapan VUB padi tahan salinitas dan naungan  ini juga akan dikembangkan di lahan perkebunan.Indonesia sendiri historis memiliki keunggulan komparatif komoditas perkebunan yang terbukti menopang surplus neraca perdagangan nasional."Penetrasi cahaya yang radiasinya cukup 50-70%," terangnya.

Menurutnya juga diperlukan dukungan pengembangan mekanisasi pertanian dalam era modern guna mendukung percepatan sasaran Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. Dukungan serupa mencakup inovasi pengelolaan tata air irigasi.

Namun mantan Kapuslitbang Perkebunan ini mengingatkan kontribusi pemenuhan sumber karbohidrat tidak bertumpu pada tanaman padi. Indonesia memiliki keanekaragaman bio diversity yang potensial dikembangkan sebagai pangan utama.

Tanaman sagu misalnya.Indonesia merupakan produsen yang memiliki lahan terluas  nomor satu di dunia.Pangan potensial berbasis sagu secara historis sudah dibudidayakan secara turun menurun di Tanah Air.

Sagu merupakan penghasil karbohidrat yang paling efisien.Tanaman ini menghasilkan produktifitas tertinggi dibandingkan komoditas lain.Bahkan mampu tumbuh baik di lahan sub optimal‎.

Data Puslitbang Perkebunan menyebutkan sagu mampu menghasilkan 15-24 ton per ha/tahun. Bandingkan dengan produksi nasional yang rerata sekitar 5,2 ton/ha.

Belum cukup disitu, saat ini Indonesia sudah merupakan produsen utama minyak kelapa sawit mentah (CPO) dunia. Tahun ini diproyeksikan produksi CPO mencapai 30-31 juta ton, menurun 15% akibat fenomena El Nino.

Tahun 2015 lalu, ekspor CPO dan turunannya sebesar 26,4 juta ton,dari total produksi sebesar 32,5 juta ton.Dengan raihan devisa dari hasil ekspor sebesar US$ 18,6 miliar.kbc11

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: