Investasi apa yang menarik di 2017? Ini saran Manulife

Rabu, 7 Desember 2016 | 17:48 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Di tengah ketidakpastian situasi politik dan ekonomi global, masih terdapat beberapa instrumen investasi di Tanah Air yang diyakini menawarkan peluang menarik di tahun 2017.

Chief Economist and Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Katarina Setiawan mengatakan, setelah volatilitas jangka pendek mereda, Asia terutama Indonesia, akan tetap menjadi tujuan investasi global, karena fundamental yang kuat dan potensi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. "Walau tidak kebal terhadap goncangan eksternal, namun saat ini Indonesia berada dalam kondisi yang lebih siap dibandingkan saat tahun 2013 dan 2015 lalu. Cadangan devisa telah meningkat, sementara defisit transaksi berjalan telah jauh menurun," katanya dalam acara Market Outlook 2017: Embracing Changes di Jakarta, Rabu (7/12/2016).

Melalui keterangan persnya, Katarina menjelaskan bahwa ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang lebih agresif telah memicu penguatan mata uang dolar AS dan meningkatkan arus dana asing keluar dari Indonesia, yang dikhawatirkan dapat mengganggu stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Akan tetapi, dengan semakin membaiknya defisit neraca berjalan disertai dengan kecukupan cadangan devisa di atas rata-rata 8 bulan impor, membuat ekonomi Indonesia diyakini tetap kokoh. Selain itu, dari sisi perdagangan dan investasi, ekonomi Indonesia relatif terisolasi karena lebih berorientasi pada konsumsi domestik.

"Eksposur Indonesia terhadap perdagangan dengan Amerika Serikat dan perdagangan global secara keseluruhan termasuk yang terendah di antara negara-negara Asia lainnya. Beragam kondisi tersebut membuat Indonesia relatif terlindungi dari dampak negatif ketidakpastian situasi politik dan ekonomi global," ujar Katarina.

Direktur Investasi MAMI Alvin Pattisahusiwa meyakini tahun 2017 akan menjadi tahun pertumbuhan bagi Indonesia. Menurut dia, pemulihan pasar masih akan terus berlanjut di tahun 2017 seiring dengan estimasi pertumbuhan ekonomi yang berada di kisaran 5,0% - 5,2%.

"Kondisi ini tidak lepas dari kebijakan pro pertumbuhan yang telah diterapkan, baik kebijakan fiskal melalui paket-paket kebijakan pembangunan yang telah diluncurkan oleh pemerintah, maupun kebijakan moneter longgar dari Bank Indonesia. Selain itu, keberhasilan program amnesti pajak juga membawa dampak positif dalam meningkatkan penerimaan pajak negara dan memperbesar basis data wajib pajak untuk kesinambungan postur anggaran pendapatan dan belanja negara," jelasnya.

Lebih lanjut Alvin mengatakan, konsumsi domestik masih akan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2017. Akselerasi pembangunan infrastruktur akan mendorong kegiatan investasi, sehingga lebih berperan dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Kondisi ekonomi yang semakin membaik tentunya memberikan peluang investasi. Alvin pun menyarankan para investor untuk terus berinvestasi di tahun 2017 sesuai dengan tujuan dan toleransi tingkat risiko, karena pemulihan di pasar saham dan obligasi masih akan terus berlanjut, terlebih dengan masih rendahnya suku bunga di tahun 2017. “Perbaikan ekonomi yang didukung oleh kebijakan pro pertumbuhan dari pemerintah dan Bank Indonesia memberikan peluang bagi investasi di reksa dana saham dan pendapatan tetap. Kedua jenis reksa dana ini berpotensi memberikan imbal hasil yang atraktif,” ujar Alvin.

Sementara Director of Business Development MAMI Putut Endro Andanawarih menyarankan para investor untuk melakukan evaluasi portofolio investasi yang dimiliki, dan jika diperlukan, mulai menyesuaikan portofolio investasinya berdasarkan tujuan investasi dan profil risiko. Bagi investor yang memiliki jangka waktu investasi panjang dan menginginkan imbal hasil investasi yang tinggi, dapat berinvestasi di reksa dana saham. Sedangkan bagi investor yang memiliki tujuan jangka menengah, dapat berinvestasi di reksa dana pendapatan tetap yang berbasis obligasi. Adapun bagi investor yang menginginkan tingkat likuiditas yang tinggi namun tetap menginginkan hasil investasi di atas deposito, dapat memanfaatkan reksa dana pasar uang.

“Bagi investor yang memiliki profil risiko agresif dapat menginvestasikan 50% - 70% dana investasinya di reksa dana saham, 20% - 30% di reksa dana pendapatan tetap, dan 10% - 20% di reksa dana pasar uang," tukasnya. kbc7

Bagikan artikel ini: