Depresiasi rupiah dan Asian Games bakal beri angin segar agribisnis

Kamis, 15 Desember 2016 | 20:52 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Nilai tukar rupiah yang terdepresiasi dan momentum Asian Games pada tahun 2017 akan berkorelasi positif terhadap terhadap peningkatan komoditas agribisnis.

Mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih menuturkan, nilai tukar rupiah yang saat ini berada  dikisaran US$ Rp 13.000 an diprediksi akan terus melemah sebagai imbas Trump Effect dan kebijakan moneter The Fed yang akan menaikkan suku bunga. Namun,adanya faktor eksternal tersebut justru akan memberi peluang bagi petani untuk meningkatkan produksi hasil tanamnya.

Sementara di sisi lain, bagi produk impor sejenis menjadi cukup sulit karena harganya menjadi tidak kompetitif . Sawit menjadi salah satu contoh sebagai komoditas pertanian yang diuntungkan karena menguatnya kurs dolar.

Implikasinya, minyak soybean dan jagung akan menjadi mahal. Sementara di level pasar minyak nabati, sawit menjadi lebih murah. "Ini akan memperkuat eskpor sawit nasional. Ekspor sawit akan lebih prospektif di tahun 2017 dari 2016. Apalagi konsumsi di dalam negeri akan lebih tinggi seiring kewajiban penyerapan biosolar dalam negeri," ujar Bungaran dalam Seminar Nasional Agrina Aribusiness Outlook 2017 di Jakarta, Kamis (15/12/2016).

Faktor pengungkit selanjutnya adalah kesiapan menyosong event Asean Games 2018. Menurut Bungaran meski momentum tersebut tidak sebesar Olimpiade, namun perhelatan olah raga tersebut merupakan yang terbesar di Asia.

Tentunya, kata Bungaran pemerintah menyiapkan infrastruktur guna mendukung ajang olah raga tersebut. Pada saat bersamaan swasta juga melakukan hal yang sama.

Bungaran melihat geliat pertumbuhan ekonomi akan terjadi seiring penyediaan infrastruktur yang turut memberi stimulus kepada sektor pertanian. "Apa yang bertumbuh? Menurut saya bukan beras yang tumbuh,tapi tumbuhan hoortikultura. Olah ragawan butuh produk hortikultura yang baik dan segar," ujar Bungaran.

Bungaran menambahkan permintaan juga akan tumbuh pada produk daging dan telur. "Susu juga, sayangnya kita mengimpor. Daging kerbau kita pun impor," terang Bungaran seraya menambahkan hal sama terjadi di komoditas gula.

Adapun berkenaan dampak El Nino tahun 2015 yang menekan hasil produksi sejumlah komoditas pangan. Namun, di tahun 2016 iklim berunah menjadi La Nina atau kemarau basah yang terjadi hampir sepanjang tahun menyebabkan tren suplai produk pertanian domestik dan usaha agribisnis akan mengalami peningkatan di tahun 2017.

"Tapi yang lebih bagus itu siapa yang akan bisa mengambilnya. Are you going to be the one to create it," tukas Bungaran.kbc11

Bagikan artikel ini: