Keran dibuka, ekspor sarang walet RI ke China melesat 56%

Kamis, 5 Januari 2017 | 10:48 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Volume ekspor sarang burung walet Indonesia ke China sepanjang tahun 2016 senilai US$7,5 juta. Peningkatan tersebut terjadi setelah ekspor Indonesia ke China secara langsung tanpa pihak ketiga.

"Itu meningkat sekitar 56 persen dibanding tahun sebelumnya," ujar Kepala Badan Karantina Kementerian Pertanian Banun Harpini kepada wartawan usai Rapat Kerja Nasional Kementan di Hotel Bidakara, Rabu (4/1/2017).

Selain faktor tersebut, peningkatan ini juga disebabkan tingginya sumber bahan baku sarang walet dan kemampuan Indonesia mengendalikan flu burung. "Karena itu ada standar tertentu dengan pengolahannya, pemanasannya dan sebagainya untuk ekspor sarang walet," kata dia.

Sejak 2013, kata dia, Indonesia sudah mempersiapkan diri untuk melakukan ekspor unggas. Banun mengatakan, pihaknya sudah melakukan zonasi wilayah bebas flu burung atau paling tidak yang bisa mengendalikan flu burung. Pengendalian flu burung dapat dilakukan dengan pemanasan tertentu dan biosecurity yang baik. "Sehingga kita sekarang siap untuk ekspor," ujarnya.

Selain sarang walet, Indonesia juga mengekspor produk unggas lainnya. Tahun lalu, Indonesia mulai mengekspor telur tetas ke Myanmar. "Ke Myanmar sudah 450,1 ton telur untuk ditetaskan," lanjut dia.

Di tahun yang sama yakni 2016 akhir, Indonesia juga sudah melakukan pembicaraaan ekspor daging ayam beku dengan Korea Selatan dan Jepang. Ia mengatakan, secara SPS kedua Negara telah setuju, tinggal melakukan negosiasi harga.

Wilayah perbatasan seperti Papua Nugini dan Timor Leste diakui Banun sudah menerima produk unggas kita

Namun ekspor tersebut belum tercatat secafa statistik karena belum adanua tandatangan kesepakatan atau MOU. "Tahun ini kita akan segera signing," katanya.

Sementara itu terkait wabah flu burung yang kini menerpa China, Banun mengatakan, virus tampaknya telah bermutasi dari H5N1 menjadi H7N9. "Itu sudah terdeteksi dan menginfeksi manusia," katanya.

Namun ia meminta masyarakat tidak risau karena sejak 2013, Indonesia sudah melakukan penghentian masuknya DOC juga produk segar terkait unggas seperti daging segar untuk ayam maupun itik. kbc10

Bagikan artikel ini: