GoPro rugi Rp5 triliun sepanjang 2016

Jum'at, 3 Februari 2017 | 16:41 WIB ET

SAN FRANSISCO, kabarbisnis.com: GoPro baru saja merilis pendapatan kuartal keempatnya. Pembuat kamera itu melaporkan kerugian US$ 373 juta atau setara Rp 5 triliun sepanjang tahun 2016.

Perusahaan meraih pendapatan US$ 540 juta pada kuartal keempat - yang terbaik kedua yang pernah dicatat GoPro, dan sekitar US$ 100 juta lebih baik dari musim liburan 2015. Namun, angka itu masih sekitar US$ 30 juta di bawah proyeksi industri.

Beberapa putaran pemutusan hubungan kerja, penutupan departemen, dan biaya US$ 102 juta untuk penyisihan aktiva pajak tangguhan mendorong kerugian besar perusahaan. Saham GoPro turun sekitar 15 persen setelah jam perdagangan menyusul rilis tersebut.

GoPro memperingatkan investor awal tahun lalu bahwa 2016 akan menjadi tahun berat secara finansial. Namun, GoPro bahkan tidak mampu memenuhi perkiraan pendapatan suramnya.

Pengumuman Kamis 2 Februari 2017 itu menunjukkan bahwa GoPro mencatat pendapatan US$ 1,185 miliar pada 2016, yang hampir US$ 200 juta di bawah proyeksi perusahaan Februari lalu. Angka itu juga merupakan penurunan yang cukup besar dari pendapatan US$ 1,6 miliar pada tahun 2015.

Masalah keuangan akan menjadi lebih buruk jika tidak ada Hero 5 Black dan Hero 5 Session. Diumumkan pada bulan September dan dirilis pada bulan Oktober, kamera unggulan itu menjadi kamera digital terlaris nomor satu dan nomor dua di AS, menurut laporan NPD yang dikutip oleh GoPro.

CEO Nick Woodman mengatakan pada pertemuan dengan investor bahwa perusahaan menjual lebih 2 juta kamera pada kuartal keempat, dan ia menambahkan bahwa jajaran kamera Hero 6 akan datang pada tahun 2017.

Laporan laba itu tidak menyebut soal Karma, drone nahas GoPro yang ditarik setelah 2.500 unit yang terjual mengalami jatuh saat terbang. GoPro meluncurkan kembali lineup drone Karma, Senin lalu, setelah mengambil waktu tiga bulan untuk mendesain ulang kait baterai rusak yang menyebabkan kegagalan sebelumnya. kbc10

Bagikan artikel ini: