Kerja sama XL-Axis tak akan ubah industri telekomunikasi

Jum'at, 20 November 2009 | 11:00 WIB ET
CEO Axis Erik Aas dan Presdir XL Hasnul Suhaimi (dok. Axis)
CEO Axis Erik Aas dan Presdir XL Hasnul Suhaimi (dok. Axis)

SURABAYA - Kesepakatan roaming nasional antara PT XL Axiata Tbk (XL) dan PT Natrindo Seluler (Axis) dinilai tidak akan mengubah struktur industri telekomunikasi tanah air. Kesepakatan itu tidak akan berpengaruh signifikan, apalagi jika tak diikuti operator besar, seperti PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) dan PT Indosat Tbk.

Demikian dikatakan pengamat telekomunikasi Herry S. W. menjawab kabarbisnis.com di Surabaya, Kamis 919/11/09). Herry malah mempertanyakan kesiapan jaringan XL setelah kesepakatan itu berjalan.

”Memang kita masih harus menunggu saat kesepakatan itu mulai berjalan kuartal I/2010. Tapi, sebagai operator yang ditumpangi, XL harus benar-benar menyiapkan jaringannya jika nanti di-share sama Axis. Apakah XL bisa, mulai untuk voice, BlackBerry, hingga Axis data?” kata Herry.

Dia menilai, kesepakatan tersebut sangat menguntungkan bagi pelanggan Axis, meski tidak semua coverage yang sudah dijangkau XL diberikan ke Axis sekaligus.

Namun, kata dia, kesepakatan ini harus didesain dan disiapkan agar tidak merugikan pelanggan XL sebagai operator yang ditumpangi. Sebab, jika hal teknis terkait kesiapan jaringan tak disiapkan secara teknis dan detail, okupansi jaringan XL akan semakin padat dan berpotensi mengurangi kualitas layanan kepada para pelangannya.

Karena itu, XL harus menghitung secara cermat kapasitas jaringannya, terutama seberapa besar kapasitas yang bisa dijual ke Axis.

”Tapi, saya yakin hal ini sudah diantisipasi meski tetap harus ditanyakan oleh publik, khusunya pelanggan XL, agar kelak ketika kesekapatan berjalan, tak ada yang merasa dirugikan,” ujarnya.

Seperti diketahui, XL dan Axis telah menandatangani kesepakatan roaming nasional. Melalui kesepakatan ini para pelanggan AXIS akan mendapat akses penuh ke jaringan XL di Sumatera, dilanjutkan Kalimantan, dan Sulawesi. Namun pengelolaan pelanggan AXIS tetap akan ditangani langsung oleh AXIS. Kesepakatan ini berlaku mulai kuartal I/2010.

”Sebenarnya kesepakatan seperti itu sudah pernah terjadi pada Indosat dan Satelindo, namun keduanya kan akhirnya jadi melebur jadi satu. Jalannya kesepakatan XL dan Axis ini patut ditunggu,” tuturnya.

Herry mengatakan, kesepakatan XL dan Axis merupakan babak baru bisnis telekomunikasi di Indonesia. Tapi, hal tidak akan mengubah struktur industri secara signifikan. Apalagi, jika tak diikuti operator besar yang mempunyai jaringan luas dan jumlah pelanggan yang besar.

Para operator besar seperti Telkomsel dan Indosat dinilainya tidak akan semudah itu bersedia melakukan kerja sama, meski secara teknis kerja sama roaming cukup mudah dilakukan. Sebab, cakupan area layanan masih menjadi salah satu nilai jual paling menarik bagi operator telekomunikasi di Indonesia. Selain itu, kesepakatan roaming ini seolah memberi jalan lempang bagi kompetitor.

”Kondisi ini berbeda dengan negara yang sudah memakai mobile number portability di mana coverage bukan lagi menjadi nilai jual operator. Tidak mudah bagi operator besar untuk membikin kesepakatan seperti itu, karena konsekuensinya secara bisnis cukup signifikan,” ujarnya.

Kendati demikian, secara prinsip Herry sepakat jika kesepakatan roaming XL dan Axis adalah cakrawala baru industri telekomunikasi Indonesia. Dia yakin, pelan tapi pasti, fokus bisnis di industri telekomunikasi bukan lagi bersaing dalam aspek jaringan dan ritel, namun lebih ke layanan konten dan turunannya. Apalagi, selama ini energi para operator sudah terkuras habis untuk ekspansi jaringan. kbc5

Bagikan artikel ini: