Monyet Anggodo tunggangi buaya

Minggu, 22 November 2009 | 11:41 WIB ET

JAKARTA - Dukungan terhadap peran 'cicak' Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan mengkerdilkan pera 'buaya' Polri, terus mengalir. Aliran itu kini muncul dari kelompok seniman yang tergabung dalam CICAK (Cinta Indonesia Cinta Antikorupsi)

serta

Seniman Masyarakat Anti Korupsi (Sempak), dengan melakukan aksi demo damai di Bundara HI Jakarta, Minggu (22/11/09).

Mereka tidak berorasi, berkoar-koar menentang buaya dan mendukung cicak, menyebarkan selebaran namun cukup melukis serta membuat gambar karikatur dengan sebuah harapan ingin agar Cicak bisa menang melawan Buaya.

"Para seniman ini hanya bisa mengekspresikan dukungan cuma dengan coretan lukisan dan gambar. Juga sebagai bentuk keprihatinan para seniman terhadap KPK, bentuk kepedulian seniman terhadap pemberantasan korupsi yang terus dikebiri," ungkap Agam Fachturochman, seniman lukis sekaligus pengiat demo damai.

Agam mengaku aksi damai ini diikuti 10 seniman pelukis terdiri pelukis, dokter, tenaga periklanan, dan seniman karikatur. Jumlah seniman lukis yang ikut mendukung kegiatan ini sangat banyak, namun karena beberapa ada kegiatan pameran lukis dan pertemuan pelukis di luar Jakarta, sehingga hanya sepuluh lukis yang melakukan kegiatan ini. Meski demikian, tak mengurangi minat seniman lukis dan karikatur untuk terus mengingatkan agar pemerintah serius memberantas korupsi dan pada akhirnya cicak menang melawan buaya.

Dimas Prasetyo (63 tahun), pelukis dan karikaturis senior sangat bangga dengan tampil dalam aksi protes dengan cara melukis sebagai bentuk kepeduliannya terhadap pemberantasan korupsi.

Pelukis asal Jakarta ini melukis gambar monyet yang bertuliskan Anggodo dibagian dadanya. Monyet tersebut sedang menunggangi seekor buaya, sementara di depannya ada dua ekor cicak yang hanya melihat sambil benggong. Sang monyet memerintahkan buaya untuk memakan cicak. Perumpamaan lukisan itu adalah sebuah gambaran kekisruhan yang terjadi di tubuh KPK saat ini.

"Kita memiliki visi yang sama dengan aski yang terjadi selama ini, yaitu mengungkapkan kebenaran atas apa yang terjadi di antara pimpinan KPK dan Kepolisian, dan jangan sampai masalah ini berlarutlarut sehingga korupsi terus terjadi. Dan kemenangan akan berpihak pada koruptor, karenanya seniman meminta kepada kepala negara agar tidak diam mengatasi konflik antara cicak dan buaya ini," paparnya dengan polos.

Dengan lukisan itu, sambung Dimas diharapkan Indonesia jangan mempermalukan dirinya sendiri dan pejabat tidak boleh menunjukkan kesombongannya. Harusnya kita jangan gontok-gontokan sendiri, mestinya fokus pada pemberantasan korupsi.

Rencananya, lukisan-lukisan tersebut nantinya akan dipamerkan dalam sebuah pameran lukisan yang dihelat pada 10 Desember mendatang. Pameran ini akan diikuti seniman di Bandung dan Yogyakarta, yang juga menyelenggarakan aksi serupa, di kotanya. Kbc10

Bagikan artikel ini: