Pertumbuhan ekonomi 2017 diprediksi 5,1% akan ditopang tiga faktor ini

Kamis, 6 April 2017 | 16:54 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi (Produk Domestik Bruto/PDB) Indonesia tahun ini di level 5,1%, perkiraan ini sama seperti yang ditargetkan pemerintah dalam APBN 2017. ADB menyebutkan prediksi pertumbuhan ekonomi akan ditopang tiga faktor yakni peningkatan investasi swasta, ekspor dan belanja infrastruktur publik.

 

Country Director ADB for Indonesia Winfried Wicklein pada Asian Development Outlook 2017 `Transcending the Middle-Income Challenge` di Jakarta, Kamis (6/4/2017), mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus tumbuhan dalam dua tahun ke depan yang ditopang oleh peningkatkan investasi swasta dan ekspor, serta belanja infrastruktur publik yang lebih tinggi.

"ADB memproyeksikan pertumbuhan produk domestik bruto Indoesia akan mencapai 5,1 persen tahun 2017 dan 5,3 persen pada 2018. Lebih baik dari pertumbuhan tahun 2016 yang sebesar 5 persen, setelah sebelumnya mengalami penurunan selama 4 tahun berturut-turut," kata Wicklein.

Wicklein menyatakan dengan peningkatan arus modal masuk ke dalam negeri serta ekspor yang membaik akan membuat Indonesia memperoleh momentum lebih lanjut untuk pertumbuhan ekonomi. "Tentu untuk capai jalur pertumbuhan yang berkelanjutan ke depannya, Indonesia perlu upaya berkesinambungan untuk terus memperbaiki infrastruktur publik," ujarnya.

Selain itu, kata Wicklein juga perlu terus memperdalam reformasi struktural, serta mengatasi kesenjangan keahlian. Ia menyebutkan pengeluaran rumah tangga diperkirakan akan meningkat tahun ini yang dibantu oleh pulihnya harga komoditas, perluasan program dana desa, dan juga peningkatan upah minimum.

Begitu juga dengan belanja infrastruktur, Winfried memaparkan belanja infrastruktur publik diperkirakan akan meningkat pada tahun ini seiring dengan alokasi anggaran pemerintah. Investasi swasta diperkirakan juga akan naik karena bertambahnya pendapatan dari ekspor komoditas dan dampak dari reformasi struktural baru-baru ini untuk menghilangkan hambatan regulasi serta membuka sektor baru bagi investor asing.

"Seiring membaiknya harga komoditas internasional, prospek ekspor Indonesia diperkirakan akan meningkat. Namun ada risiko yang dapat mempengaruhi proyeksi PDB ini yakni kemungkinan lambatanya pelaksanaan reformasi kebijakan dan kurangnya pendapatan fiskal," jelasnya.

Sementara itu, dari sisi eksternal juga masih menunjukkan adanya risiko yang berasal dari ketidakpastian atas kebijakan perdagangan di negara-negara maju, dan pemulihan ekonomi yang lebih lemah daripada perkiraan di sejumlah mitra perdagangan utama. Hambatan besar lainnya bagi Indonesia untuk realisasikan potensi pertumbuhannya adalah kesenjangan keahlian.

"Maka Indonesia perlu melakukan berbagai upaya yang berfokus pada strategi untuk memobilisasi sumber daya pemerintah dan swasta bagi pendidikan dan pelatihan, serta meningkatkan efisiensi belanja di sektor pendidikan publik," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: