Ekspor produk tekstil 2017 diprediksi stagnan, ini alasannya

Kamis, 13 April 2017 | 08:11 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Belum membaiknya perekonomian global ikut memengaruhi kinerja ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) bahkan memprediksi ekspor komoditas ini pada 2017 masih stagnan atau jalan ditempat, jika dibandingkan dengan kinerja ekspor tahun lalu.

Dari data API pada tahun 2016, total nilai ekspor TPT sebesar US$11,9 miliar, dan ekspor ke Amerika Serikat mencapai 41,17 persen atau sebesar US$4,9 miliar.

"Ekspor (tahun ini) masih sebesar itu (tahun lalu), yang seharusnya naik justru tidak naik kalau untuk ekspor ke Amerika. Jadi, ekspor ke Amerika Serikat cenderung stagnan," papar Ketua Umum API Ade Sudrajat di Jakarta, Rabu (12/4/2017).

Menurut Ade, jika dilihat tren ekspor TPT dalam beberapa tahun terakhir, ekspor TPT Indonesia memang tengah mengalami tren penurunan. Pada 2013, nilai ekspor TPT mencapai 13,3 miliar dollar AS, dan pada 2016 hanya 11,9 miliar dollar AS.

"Perkembangan kita dari tahun ke tahun terus menurun khusus ekspor, karena bagaimanapun dunia sedang berubah dan sedang mencari sistem perdagangan terbaru dan juga teknologi," ungkap Ade.

Ade berharap, kedepan dengan adanya pembahasan terkait perjanjian perdagangan Indonesia dan Uni Eropa yakni Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (Indonesia-EU CEPA) akan berdampak pada peningkatan ekspor produk TPT nasional.

"Kerja sama perdagangan bebas dengan Uni Eropa perundingan sudah dimulai 2015, diharapkan bisa selesai 2019 jadi baru dimulai 2020. Walau kita minta prioritas TPT tapi tidak bisa gitu juga karena scoop-nya luas. Kalau ini sudah disepakati pun harus dibahas di parlemen (negara) masing-masing," papar Ade.

Menurut Ade, nilai ekspor TPT dari Indonesia ke Eropa terus alami penurunan akibat kalah bersaing dengan Vietnam dan Bangladesh karena persoalan bea masuk ekspor produk TPT.

"Yang turun drastis itu ke Eropa karena terus-terusan digerus oleh Vietnam dan Bangladesh yang bea masuknya nol persen, sedangkan kita (Indonesia) 10 persen," ungkap Ade.

Dengan itu, dirinya meminta kepada pemerintah agar memberikan berbagai insentif bagi industri TPT nasional agar mampu mendongkrak kinerjanya ditengah persaingan global. kbc10

Bagikan artikel ini: