Mandiri siap naikkan 50% jumlah kredit ke pedagang pasar

Rabu, 25 November 2009 | 11:41 WIB ET
Vice President Deputy Regional Office VIII Surabaya  Soenartomo Soepomo (dua dari kanan) bersama Dirut (Plt) PD Pasar Surya Widodo Suryantoro berdialog dengan pedagang pasar Pabean Surabaya, Rabu (25/11/09).
Vice President Deputy Regional Office VIII Surabaya Soenartomo Soepomo (dua dari kanan) bersama Dirut (Plt) PD Pasar Surya Widodo Suryantoro berdialog dengan pedagang pasar Pabean Surabaya, Rabu (25/11/09).

SURABAYA - Ekspansi Bank Mandiri di pasar-pasar tradisional di Jawa Timur akan semakin gencar tahun depan. Micro Business District Center (MBDC) Surabaya menargetkan pertumbuhan penyaluran kredit 50% kepada para pedagang pasar tradisional di Jatim pada 2010.

Target yang cukup tinggi tersebut tak lepas dari kinerja Mandiri Mitra Usaha (MMU) yang beroperasi di pasar-pasar tradisional sebagai ujung tombak Bank Mandiri mendekati pedagang pasar tradisional.

Vice President Deputy Regional Manager Regional Office VIII Surabaya, Soenartomo Soepomo, mengungkapkan enam pasar di Surabaya yang menjadi pilot project telah menunjukkan kinerja mengesankan.

“Kredit mikro yang disalurkan kepada pedagang di pasar tradisional tak memiliki catatan bermasalah. Dengan kata lain, non performing loan [NPL] para pedagang tersebut nol persen,” jelas Soenartomo usai menyerahkan hadiah kepada para debitor mikro di Pasar Pabean Surabaya, Rabu (25/11/09).

Siasat yang diterapkan oleh MMU agar NPL bisa tertahan di 0% adalah menyediakan pick up service atau menjemput angsuran harian dari para pedagang pasar tersebut.

Bank dengan aset terbesar di Indonesia, menyiapkan tenaga untuk memungut angsuran harian sebanyak 10 orang di setiap pasar. Dengan jumlah pasar yang telah dimasuki sebanyak 31 pasar di seluruh Jatim, maka tim MMU tersebut saat ini telah mencapai 310 orang.

“Jumlah karyawan tersebut terhitung gemuk untuk industri perbankan. Namun tujuan MMU di sini tak semata-mata mengeruk laba. Kami juga melakukan pembinaan sehingga bisnis para debitor berkembang,” jelas Soenartomo yang akrab dipanggil Pak Tomi.

Praktik Bank Mandiri di pasar-pasar tradisional ini mengingatkan kita pada konsep yang diterapkan Grameen Bank yang menyalurkan kredit mikro dengan tanpa agunan. Keduanya sama-sama menyasar debitor mikro dengan skema tanpa agunan, meski berangkatnya berbeda.

Grameen Bank berangkat dari lembaga keuangan non-bank berlanjut menjadi bank komersial, namun dengan tetap membidik nasabah mikro. Sementara Bank Mandiri adalah kebalikannya, dari bank komersial berlanjut merangkul debitor mikro.

“Mengingat ini adalah bisnis dengan sistem kepercayaan dan tenaga kerja yang terlibat di MMU juga terhitung banyak untuk ukuran bisnis bank, makanya kami mengutip suku bunga di kisaran 1,8%-2% tiap bulannya,” jelas District Manager MBDC Surabaya Upit W Palupi.

Upit menambahkan, suku bunga tersebut jauh lebih rendah dibandingkan bunga yang dikenakan oleh para rentenir yang biasa beroperasi di pasar-pasar tradisional. Rentenir bisa memungut bunga hingga 10% tiap bulannya.

“Dengan suku bunga segitu, kredit yang kami tawarkan sangat diminati. Untuk enam pasar yang jadi pilot project kami di Surabaya, kami telah menyalurkan kredit mikro sebesar Rp5,2 miliar dan jumlah tabungan yang kami himpun sekitar Rp1,1 miliar sejak diluncurkan tujuh bulan yang lalu,” kata Upit.

Dia memperkirakan jumlah kredit mikro yang disalurkan kepada 31 pasar tradisional di Jatim mencapai Rp30 miliar sampai dengan akhir 2009 dan nantinya meningkat 50% pada 2010.

Jumlah kredit yang dipinjam para pedagang pasar, lanjut Upit, rata-rata mencapai Rp15 juta. Sedangkan rata-rata uang yang ditabung sekitar Rp3 juta. “Rasionya, jumlah tabungan para pedagang setara 20% dari kredit yang telah kami salurkan,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Utama (Plt) PD Pasar Surya, Widodo Suryantoro, menjelaskan pihaknya cukup terbantu dengan kehadiran Bank Mandiri ke pasar-pasar tradisional binaannya.

“Sebab salah satu tugas kami adalah memberantas praktik-praktik rentenir di pasar. Pedagang sulit berkembang bila terjerat rentenir. Dengan masuknya bank-bank ke pasar tradisional tugas kami cukup terbantu,” jelas Widodo. kbc3

Bagikan artikel ini: