Menperin yakin produksi cangkul BBI bisa penuhi kebutuhan dalam negeri

Rabu, 19 April 2017 | 18:52 WIB ET
Menperin Airlangga Hartarto dalam acara penyerahan cangkul produksi BBI.
Menperin Airlangga Hartarto dalam acara penyerahan cangkul produksi BBI.

SIDOARJO, kabarbisnis.com: Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto optimistis produk cangkul yang diproduksi PT Boma Bisma Indra (BBI) bisa mengisi seluruh kebutuhan cangkul di dalam negeri. Sehingga, ke depan produk cangkul Tiongkok tak lagi masuk ke Indonesia.

"Secara produksi, produk cangkul kita memang bisa. Sehingga diharapkan produksi cangkul Tiongkok tidak lagi masuk pasar Indonesia," katanya usai menyerahkan 100 cangkul produksi BBI kepada industri kecil menengah (IKM) dan petani di Sidoarjo, belum lama ini. 

Airlangga mengatakan, pemerintah telah memproteksi masuknya produk cangkul dari Tiongkok untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. "Sekarang kan harus direkomendasi, jadi bila tidak direkomendasi tidak akan bisa impor," katanya.

Dia juga menegaskan pemerintah tidak akan memberikan subsidi untuk produk cangkul yang diproduksi BUMN. Namun, dia berharap agar harga produk cangkul bisa ditekan sehingga harganya bisa bersaing dengan produk dari Tiongkok. "Kita tidak proteksi dengan memberi subdisi untuk produksi cangkul ini, namun saya berharap cost-nya bisa ditekan ke bawah lagi. Kalau memang harganya (cangkul Tiongkok) di sana dikasih dumping ya kita tuntut nanti," ujarnya.

Sementara itu, Dirut BBI Rahman Sadikin mengatakan, salah satu upaya untuk menekan harga produk cangkul adalah dengan membangun sinergi antar-BUMN. "Saya rasa sinergi antar-BUMN yang dibangun sekarang dalam produksi dan pemasaran yakni BBI, Krakatau Steel, Sarinah, dan Perusahaan Perdagangan Indonesia ini bisa menekan harga produk cangkul. Meskipun untuk saat ini belum bisa dikatakan kompetitif harganya, tapi sinergi ini ke depan tentunya akan menjadikan harga yang lebih kompetitif lagi. Dengan sinergi BUMN ini kita bisa menutup importasi cangkul dari Tiongkok," kata Rahman.

Menurut Rahman, untuk menjadikan harga cangkul produksi dalam negeri bisa kompetitif adalah memperkuat sinergi BUMN yang terkait dengan produksi cangkul tersebut. Salah satunya adalah bagaimana Krakatau Steel (KS) sebagai penyedia bahan baku baja bisa menyediakan harga yang kompetitif. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah mencegah masuknya produk cangkul ilegal dari Tiongkok di pasar dalam negeri setelah ada larangan importasi per 1 Desember 2016 lalu. Pasalnya, meskipun sudah ada larangan tersebut masih ditemukan produk cangkul ilegal di pasar.

"Jadi yang penting sekarang bagaimana cangkul ilegal itu bisa distop. Kalau produk cangkul ilegal itu masih ada di pasar, produk cangkul IKM ya susah bersaing. Kita tahu cangkul dari Tiongkok yang masuk ke Indonesia bisa seharga US$ 1 karena di Tiongkok sendiri ada raw material yang murah," terang Rahman.

Dia menambahkan, sesuai target dari Kemperin, BBI bisa memproduksi 100.000 unit per bulan. Namun dari target tersebut, saat ini BBI baru mampu mempoduksi cangkul sebanyak 50.000 unit per bulan. "Sehingga sampai akhir tahun nanti kita targetkan bisa memproduksi cangkul ini sebanyak satu juta," paparnya. 

Dikatakan, sejauh ini untuk memproduksi cangkul BBI telah merangkul 25 IKM di sekitar Sidoarjo dan Pasuruan untuk bekerja sama. Jumlah tersebut akan terus bertambah sampai akhir tahun ini. "Kita juga akan memberikan pelatihan cara-cara pembuatan cangkul yang berstandar nasional kepada IKM di daerah lain," pungkasnya. kbc4

Bagikan artikel ini: