Laba Bank Sampoerna naik 10% terkerek pendapatan bunga

Kamis, 4 Mei 2017 | 09:49 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Bank Sampoerna membukukan laba bersih pada sepanjang kuartal pertama tahun ini sebesar Rp12,6 miliar, tumbuh 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy). Pertumbuhan laba perseroan terutama ditopang oleh meningkatnya pendapatan bunga bersih yang naik 45 persen (yoy) menjadi Rp128,7 miliar.

Direktur Utama Bank Sampoerna Ali Rukmijah menjelaskan, capaian kinerja perseroan pada kuartal pertama tahun ini didorong oleh penggunaan biaya yang lebih bijak dan upaya perseroan menjaga kualitas kredit. Pada kuartal pertama tahun ini, Bank Sampoerna berhasil menurunkan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) gross dari 4 persen pada kuartal pertama tahun lalu menjadi 3 persen.

Adapun penyaluran kredit perseroan pada kuartal pertama tahun ini tercatat tumbuh 26 persen (yoy) menjadi Rp6,2 triliun, sedangkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) tercatat tumbuh 28 persen (yoy) menjadi Rp6,5 triliun.

"Penggunaan biaya secara lebih bijak dan menjaga kualitas portofolio kredit harus tetap menjadi fokus utama ke depannya, tanpa mengabaikan penciptaan peluang baru untuk mentransformasikan bisnis Bank sambil senantiasa menjaga integritas dalam melaksanakan tugasnya”, ujar Ali dikutip dari keterangan resmi, Rabu (3/5/2017).

Ali menjelaskan, pertumbuhan kredit terutama didorong oleh segmen kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang tumbuh 19 persen (yoy) menjadi Rp4,3 triliun. Sementara itu, pertumbuhan dana perseroan didorong oleh produk dana murah yakni giro dan tabungan yang masing-masing tumbuh 109 persen (yoy) dan 74 persen (yoy).

Pertumbuhan kredit dan DPK pada kuartal pertama tahun ini berdampak pada pendapatan bunga yang tumbuh 24 persen (yoy) menjadi Rp251 miliar. Adapun margin bunga bersih (net interest margin/NIM) juga ikut terkerek dari 5,5 persen pada kuartal pertama tahun ini menjadi 6,4 persen.

Disisi lain total aset perseroan hingga kuartal pertama tahun ini tercatat naik 28 persen (yoy) menjadi Rp8 triliun. Sementara itu, rasio kecukupan modal tercatat terjaga dikisaran 16,8 persen. kbc10

Bagikan artikel ini: