Bahana pangkas prediksi defisit transaksi berjalan, pengetatan moneter belum diperlukan

Rabu, 17 Mei 2017 | 15:53 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Perbaikan ekonomi global yang masih berlanjut serta harga komoditas dunia yang merangkak naik, memberi berkah bagi perekonomian Indonesia khususnya bagi neraca perdagangan. Sejak awal tahun hingga April, neraca perdagangan masih mencatat surplus sehingga memberi dampak positif bagi transaksi berjalan.

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja mengumumkan neraca perdagangan pada April masih tercatat surplus sebesar US$ 1,2 miliar, terutama ditopang oleh turunnya impor minyak dan gas yang tumbuh 10,3% secara tahunan,  dibanding bulan lalu yang tumbuh sebesar 17,5% sementara itu ekspor non minyak dan gas masih kuat. Sepanjang januari-maret, total neraca perdagangan mencatat surplus sebesar $3,93 miliar, lebih dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat surplus sebesar US$ 1,66 miliar.

Surplus neraca perdagangan ini, pada akhirnya memberi kontribusi positif untuk menurunkan defisit transaksi berjalan pada kuartal pertama 2017, yang tercatat sebesar $2,4 miliar atau defisit 1% dari produk domestik brutto (PDB), penurunan yang cukup signifikan bila dibandingkan dengan defisit pada kuartal pertama tahun lalu tercatat sebesar $4,7 miliar atau 2,1% dari GDP, meski defisit ini sedikit meningkat dibandingkan transaksi berjalan pada kuartal empat tahun lalu yang tercatat sebesar $2,1 miliar atau 0,9% dari PDB.

Menurut Ekonom Bahana Sekuritas Fakhrul Fulvian, penurunan defisit transaksi berjalan yang cukup signifikan pada kuartal pertama tahun ini, memberi sinyal positif bagi transaksi berjalan hingga akhir tahun ini. Sehingga Bahana memangkas perkiraan defisit transaksi berjalan pada akhir tahun ini menjadi 1,6% dari PDB, dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 2,1% dari PDB.

“Perkembangan ini memberi sinyal positif bagi penguatan Rupiah, diluar dari faktor inflasi yang terkendali dan masih cenderung tingginya suku bunga pasar. Saat ini rupiah dalam posisi undervalued, namun dengan kondisi politik yang terjadi sekarang, arus modal masuk dalam waktu dekat ini kelihatannya masih akan terbatas,” kata Fakhrul, Rabu (17/5/2017).

Bahana juga memangkas perkiraan transaksi berjalan untuk tahun depan menjadi 2% dari pertumbuhan ekonomi, dari proyeksi sebelumnya sebesar 2,3% dari PDB, terutama ditopang oleh perbaikan perdagangan global yang masih akan berlanjut yang dalam hal ini cenderung menguntungkan Indonesia. “Dengan perkiraan penurunan defisit transaksi berjalan ini, ruang bagi pengetatan moneter dalam waktu dekat tidak mungkin dilakukan sebab penurunan defisit transaksi berjalan, artinya ekonomi tumbuh dibawah pertumbuhan potensialnya,” kata Fakhrul.

Pada kuartal pertama tahun ini, ekonomi tumbuh sebesar 5,01%, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terutama ditopang oleh membaiknya pertumbuhan ekspor, konsumsi rumah tangga yang masih kuat serta kontribusi investasi, sedangkan belanja pemerintah masih tumbuh cukup konservatif. Bahana melihat perlunya pemerintah mewaspadai konsumsi rumah tangga yang tumbuh melambat pada kuartal pertama tahun ini.

Perlambatan ini mencerminkan bahwa transmisi pelonggaran moneter terhadap sektor riil belum optimal, sehingga perbaikan tingkat konsumsi cenderung lebih lama. Bank Indonesia akan menetapkan suku bunga acuan atau BI 7-day reserve repo untuk periode Mei dalam Rapat Dewan Gubernur yang dimulai hari ini hingga besok (17-18 Mei).

Dengan memperhatikan berbagai indikator perekonomian yang terjadi hingga saat ini, Bahana memperkirakan BI 7-day repo rate akan bertahan di level 4,75%, pasalnya tekanan kenaikan harga-harga menjelang puasa dan Lebaran akan meningkat, sementara perekonomian masih tumbuh dibawah potensi yang sesungguhnya. kbc8

Bagikan artikel ini: