Blue Bird perkuat bisnis shuttle bus

Senin, 12 Juni 2017 | 09:17 WIB ET

JAKARTA,kabarbisnis.com: Manajemen PT Blue Bird Tbk tidak bisa memungkiri bahwa di era digital saat ini, perusahaan juga harus berbenah dan mengikuti perkembangan zaman. Makanya tahun ini, mereka memilih berdamai dengan keadaan, lewat penguatan bisnis bisnis non taksi.

Blue Bird akan memusatkan perhatian pada usaha shuttle bus. Perusahaan berkode saham BIRD di Bursa Efek Indonesia itu juga bertekad membikin divisi khusus.

Target lokasi pengembangan shuttle bus di wilayah Jabodetabek dan transportasi bandar udara. "Ini berdasarkan hasil kuartal I peningkatan terjadi pada kendaraan non taksi seperti charter bus dan rental, sementara taksi masih menghadapi kompetisi yang sulit," jelas Adrianto Djokosoetono, Direktur PT Blue Bird Tbk, saat acara paparan publik perseroan, akhir pekan lalu.

Mengintip laporan keuangan pada kuartal I-2017, pendapatan taksi maupun non taksi kompak turun. Kalau dihitung, sejatinya penurunan pendapatan taksi masih lebih kecil ketimbang non taksi. Pendapatan taksi menyusut 16,89% sedangkan non taksi sekitar 24,58%.

Namun kalau ditarik periode lebih panjang yakni sepanjang tahun 2016, hanya pendapatan taksi yang turun 15,44% menjadi Rp 4,03 triliun. Sementara pendapatan non taksi justru tumbuh 8,38% menjadi Rp 771,03 miliar.

Yang terang, pengembangan shuttle bus tahun ini memanfaatkan alokasi dana belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp 1,2 triliun. Blue Bird akan belanja sejumlah armada shuttle bus.

Blue Bird juga akan menggunakan capex untuk meremajakan taksi lawas. Fransetya Hutabarat, Direktur Keuangan PT Blue Bird Tbk, mengatakan, investasi tahun ini sangat selektif. Alih-alih menambah armada taksi anyar, mereka pilih memperbarui taksi lama.

Selektivitas Blue Bird juga terlihat dari sasaran kucuran capex. Dengan pertimbangan Jabodetabek menyumbang 80% pendapatan, mayoritas capex akan mengucur di wilayah tersebut. Sumber capex tahun 2017 terutama dari kas internal. Namun begitu, tak menutup kemungkinan Blue Bird mencari pinjaman dari pihak ketiga.

Sementara itu sembari mengembangkan shuttle bus, Blue Bird melanjutkan jalinan bisnis dengan PT Go-Jek Indonesia. Keduanya menambah wilayah kerjasama di Surabaya, Semarang, Bandung, Medan dan Makassar. Pasca lima kota, bakal menyusul 15 kota lagi. Namun manajemen Blue Bird masih merahasiakan detailnya.

Berkaca dari kongsi yang sudah berjalan di Jabodetabek, rit atau frekuensi pengangkutan penumpang Blue Bird kini meningkat. Namun peningkatannya belum mampu mengerek utilitas armada. Utilitas armadanya saat ini 70% atau sama dengan tahun lalu. "Iklim ekonomi masih sulit, bukan hanya di perseroan kami tapi juga secara makro kondisi ekonomi di Indonesia masih cukup berat," jelas Adrianto.

Lantaran tantangan bisnis masih berat, Blue Bird tak berani memprediksi kinerja tahun ini. Mereka hanya berharap situasi ekonomi berjalan kondusif. kbc10

Bagikan artikel ini: