KPPU bakal selidiki tingginya harga beras di Indonesia

Senin, 19 Juni 2017 | 08:25 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Mahalnya harga beras di Indonesia dibandingkan negara lain, khususnya di kawasan ASEAN tampaknya direspon Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Lembaga ini tengah mengumpulkan berbagai indikasi yang menyebabkan tingginya harga pangan tersebut, salah satunya adalah biaya produksi yang tinggi.

"Ini perlu kita selidiki. Karena penyebabnya pertama, bisa karena ongkos produksi di negara lain lebih rendah dibanding kita. Jadi kita menghasilkan per kg beras berarti lebih mahal dari negara lain," ungkap Ketua KPPU Syarkawi Rauf, Minggu (18/6/2017).

Menurutnya kondisi ini perlu mendapat pembenahan lebih serius dari Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan. Padahal menurut Syarkawi, dari sisi produksi beras nasional sendiri, jumlahnya sudah cukup berlimpah.

"Nah ini yang harus kita perbaiki dari waktu ke waktu karena ada data yang menunjukkan bahwa harga di Indonesia lebih tinggi dibanding internasional," terangnya.

Sementara itu faktor lain seperti rantai distribusi yang terlalu panjang disadari KPPU juga membuat harga di tingkat pengecer lebih mahal dibandingkan negara lain. Dengan demikian Syarkawi menganggap, upaya ini yang perlu ditiru dari negara lain.

"Kedua, jangan-jangan faktor rantai distribusi kita yang terlalu mahal yang membuat harga di end user itu terlalu tinggi dibandingkan negara lain yang lebih efisien dari sisi rantai distribusi," ujarnya.

Sementara dugaan terakhir menurut Syarkawi yakni, adanya pola penjualan beras dari negara lain ke pasar internasional dengan harga yang lebih murah, lantaran kelebihan pasokan stok.

"Ketiga, jangan sampai ada pola di negara lain itu mereka kelebihan produksi sehingga dijual ke pasar internasional dengan harga yang lebih murah dibanding harga di dalam negerinya sendiri," terangnya. kbc10

Bagikan artikel ini: