Sepakat dengan Indonesia, Malaysia juga serukan aksi boikot Starbucks

Selasa, 4 Juli 2017 | 16:25 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerukan agar umat Islam di Tanah Air untuk memboikot kafe Starbucks, langkah serupa juga dilakukan kelompok hak asasi manusia asal Malaysia, Pribumi Perkasa Malaysia.

Desakan tersebut dikeluarkan menyusul dukungan yang dilakukan pimpinan perusahaan terhadap komunitas lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT). Hal ini sama dengan apa yang diutarakan oleh kelompok Islam di Indonesia.

"Perkasa mendesak umat Islam di Malaysia untuk memboikot Starbucks karena perusahaan pembuat kopi internasional yang berbasis di Amerika Serikat tersebut mendukung LGBT dan pernikahan sesama jenis," kata Kepala Biro Urusan Islam Perkasa Amini Amir Abdullah dalam sebuah pernyataan, dilansir dari The Malay Mail Online pada Senin (3/7/2017).

Amini menambahkan, Perkasa juga meminta pemerintah Malaysia untuk mengkaji kembali ijin yang diberikan pada perusahaan tersebut. Desakan yang dikeluarkan kelompok muslim Malaysia menyusul pernyataan dari CEO Starbucks Howard Schultz mendukung pernikahan sesama jenis dan LGBT.

"Perkasa juga meminta pemerintah untuk mengevaluasi kembali lisensi dagang yang diberikan ke perusahaan pendukung LGBT," ungkapnya.

Meski begitu belum dipastikan pernyataan Howard Schultz yang mana yang diyakini mengandung dukungan LGBT. Meski begitu, Schultz pernah menyuruh pemegang sahamnya menjual sahamnya apabila mereka tidak setuju dengan kondisi pegawai yang beragam.

Sebelumnya, Seruan boikot starbucks ini dimulai oleh KH Anwar Abbas, Sekjen MUI yang juga pengurus Muhammadiyah. Anwar punya alasan dengan seruannya ini. Dia bersandar pada ucapan eks CEO Starbucks Howard Schultz yang mendukung LGBT.

Muhammadiyah Khawatir, keuntungan yang didapat Starbucks di Indonesia uangnya sebagian dipergunakan untuk untuk melegalisasikan LGBT dan perkawinan sejenis, baik langsung atau tidak langsung.

Menurut Anwar, sikap Schultz ini tentu saja jelas-jelas akan menjadi acuan, perhatian dan pedoman bagi seluruh pimpinan Starbucks di seluruh dunia termasuk di Indonesia. kbc10

Bagikan artikel ini: