GAPKI: Kebijakan Prancis berpotensi rusak prospek ekspor CPO

Minggu, 9 Juli 2017 | 21:13 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Rencana Prancis mengurangi penggunaan minyak sawit (CPO) di biofuel dikhawatirkan akan memicu langkah yang sama oleh negara-negara Eropa lainnya. Tentunya, hal ini akan merusak prospek ekspor komoditas tersebut.

Sebagai informasi saja, Kementerian Lingkungan Prancis menyatakan pihaknya akan mengambil langkah-langkah untuk membatasi penggunaan minyak sawit sebagai campuran biofuel, demi mengurangi deforestasi di negara-negara penghasil minyak kelapa sawit. Rencana Prancis ini merupakan tekanan internasional terbaru terhadap produk andalan Indonesia tersebut.

Beberapa bulan lalu, Parlemen Eropa menyerukan Uni Eropa untuk melarang penggunaan minyak nabati pada biodiesel yang dinilai produk tak ramah lingkungan, mengingat perkebunan sawit telah menghilangkan luasan hutan tropis.Di pihak lain, pemerintah Amerika Serikat tengah melakukan investigasi terhadap ekspor biodiesel Indonesia yang ditengarai terkait dumping.

Meski Prancis bukanlah tujuan ekspor besar bagi produk minyak sawit Indonesia, namun rencana Paris sangat mungkin diikuti oleh anggota Uni Eropa lainnya. "Ini akan sangat berdampak jika diikuti negara-negara lainnya, khususnya ketika dasar kebijakan mereka sama seperti yang dikemukakan Parlemen Eropa," tegas Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI) Fadhil Hasan di Jakarta, Minggu (9/7/2017).

Tahun lalu, secara kombinasi, Indonesia mengekspor 4,37 juta ton minyak sawit ke Uni Eropa pada tahun lalu, pasar kedua terbesar setelah India.Indonesia dan Malaysia, sebagai eksportir terbesar minyak sawit, bergandeng tangan untuk mencegah rekomendasi Parlemen Eropa tak terimplementasikan.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Karyanto Suprih menyatakan pemerintah akan melakukan apapun untuk melindungi kepentingan nasional, termasuk membawa masalah tersebut ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).Padahal, menurut Karyanto Prancis pernah berjanji berhenti untuk mengganggu penggunaan minyak sawit. "Jika kini dengan isu lingkungan, mungkin ke depan dengan isu lainnya," tandasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: