Produksi stagnan, stok CPO RI menipis

Selasa, 18 Juli 2017 | 20:24 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Gabungan Industri Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengeluhkan sepinya permintaan minyak sawit, khususnya selama Ramadhan. Padahal biasanya jelang Ramadhan permintaan meningkat karena konsumsi bertambah signifikan hingga Idul Fitri.

Sementara itu, ekspor minyak sawit Indonesia sepanjang Mei hanya terkerek 2% saja atau dari 2,56 juta ton di April meningkat menjadi 2,62 juta ton pada Mei. Di satu sisi, kinerja ekspor Indonesia selama periode Januari - Mei 2017 tercatat meningkat 29% dibandingkan dengan kurun waktu yang sama tahun lalu, atau dari 9,35 juta ton meningkat menjadi 12,10 juta ton.

"Hal ini menunjukkan pasar ekspor Indonesia tetap tumbuh meskipun berbagai kampanye hitam terus membayangi industri sawit," ujar Direktur Eksekutif GAPKI Fadhil Hasan di Jakarta, Selasa (18/7/2017).

Fadhil mengatakan kinerja ekspor yang masih cukup tinggi terus menggerus stok minyak sawit Indonesia karena tidak dibarengi dengan produksi yang berimbang. Produksi minyak sawit (CPO dan PKO) pada Mei hanya terdongkrak sebesar 8% atau dari 3,08 juta ton pada April naik menjadi 3,33 juta ton pada Mei. "Produksi meskipun sudah membaik akan tetapi masih belum maksimal," ujarnya.

Di lain pihak, industri biodiesel mengalami stagnasi dan cenderung menurun. Pada Mei ini produksi biodiesel hanya mampu mencapai 171,9 ribu ton ataun turun 26%% dibanding bulan sebelumnya dimana produksi mencapai 232,5 ribu ton. Hal ini juga berimbas pada penyerapan biodiesel di dalam negeri, pada Mei ini biodiesel yang terserap hanya 141,75 ribu ton atau turun 38 persen dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 227,72 ribu ton.

Sementara itu kinerja produksi juga mengalami stagnasi untuk periode Januari - Mei 2017 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Produksi biodiesel sepanjang Januari – Mei 2016 mencapai 1,05 juta ton, pada periode yang sama di tahun 2017 menurun menjadi 1,03 juta ton.

"Penurunan penyerapan biodiesel di bulan Mei disinyalir karena terlambatnya pengumuman alokasi oleh Pertamina dan proses administrasi tender yang panjang," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: