Lego aset bermasalah, Bank Permata raup laba Rp621 miliar

Senin, 24 Juli 2017 | 12:00 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Bank Permata Tbk mencatat laba bersih pada sepanjang semester pertama tahun ini sebesar Rp621 miliar setelah merugi Rp836 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Direktur Utama Permata Bank Ridha DM Wirakusumah mengatakan, perbaikan kinerja tesebut didorong oleh perbaikan kualitas aset dan penjualan sebagian aset bermasalah perseroan. Laba perseroan juga didorong oleh pendapatan komisi bancassurance dan pengelolaan biaya yang baik.

"Kami optimis kinerja Permata Bank dapat terus meningkat, dengan menjaga neraca keuangan yang positif seperti yang tercermin dalam dua kuartal ini,” ujar Ridha dalam keterangan resminya akhir pekan lalu.

Ridha menjelaskan, perseroan pada kuartal kedua tahun ini fokus untuk meningkatkan pengelolaan risiko sembari mendorong pertumbuhan kredit secara hati-hati. Permata juga berupaya mengelola risiko kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL).

Per 30 Juni 2017, NPL gross dan NPL net tercatat masing-masing sebesar 4,7 persen dan 1,8 persen. Angka tersebut turun signifikan dibandingkan akhir tahun lalu yang tercatat masing-masing sebesar 8,8 persen dan 2,2 persen. Rasio cakupan (coverage ratio) NPL  juga tercatat meningkat dari 122 persen pada akhir tahun lalu menjadi 166 persen di akhir Juni 2017.

“Hal ini berkat upaya proaktif mengelola kualitas aset melalui penjualan aset, serta restrukturisasi dan rehabilitasi,” terang Ridha.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit perseroan pada semester pertama tahun ini tercatat negatif sebesar 23 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp92,69 triliun. Namun, khusus pembiayaan syariah, tercatat tumbuh 6 persen (yoy) menjadi Rp11,24 triliun.

“Pertumbuhan pendapatan berbasis biaya (fee-based income) yang kuat turut mengimbangi penurunan pendapatan bunga bersih karena total pendapatan tumbuh sebesar 1 persen,” jelas Ridha.

Sebagai informasi, Bank Permata juga telah menambah permodalan melalui penerbitan saham baru (rights issue) senilai Rp 3 triliun. Penambahan modal dilakukan dua pemegang saham utama, PT Astra International Tbk (Astra) dan Standard Chartered Bank (Standard Chartered), serta publik mengambil hak mereka secara penuh.

Penyelesaian right issue tersebut pun telah berhasil memperkuat permodalan. Per akhir Juni, modal inti (Common Equity Tier/CET 1) dan total Capital Adequacy Ratio (CAR) meningkat menjadi 15,4 persen dan 18,9 persen. Angka tersebut naik dibandingkan posisi akhir tahun lalu masing-masing sebesar  11,8 persen dan  15,6 persen. kbc10

Bagikan artikel ini: