Integrasi kakao-kopi mampu kembalikan kejayaan kelapa nasional

Jum'at, 15 September 2017 | 19:59 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia pernah dikenal manca negara tahun 1950-1960 sebagai produsen buah kelapa dunia . Namun luas area  yang 98,7% merupakan perkebunan rakyat terus mengalami menyusut karena dibudidayakan dengan monokultur (pertanaman tunggal red).

Dengan kepemilikan lahan terbatas dan pemanfaatan belum optimal karena keterbatasan penerapan teknologi tak ayal provitasnya kurang dari 1 ton per hektare (ha). Atas hal itu, Dirtjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Ditjenbun) menawarkan teknik budidaya tumpang sari kakao –kelapa atau kopi yang diyakini mampu meningkatkan produksi.

“Tingkat produktivitas saat ini masih jauh dari potensinya sebesar 3 ton per hektare atau lebih. Sekarang masih 1 ton per hektare .Masih ada potensi sekitar dua tiga lipat,” ujar Dirjen Perkebunan Bambang dalam diskusi di Jakarta, Jumat (14/9/2017).

Rendahnya provitas buah kelapa juga tidak dapat dihindarkan karena umumnya usia tanaman kelapa di perkebunan rakyat sudah tua. Penurunan luas areal dan produksi kelapa cukup massif sejak 2012 dan kini masing masing sebesar 3,5 juta ha dan 2,8 juta ton.

Kementan, kata Bambang memiliki tiga program intensifikasi, replanting dan ekstensifikasi guna mengerem penurunan produksi kelapa nasional.Hanya saja Bambang melihat petani akan dihadapkan persoalaan ekonomi apabila persoalaan itu dibebankan kepadanya. Sementara upaya replanting harus distandarisasikan terlebih dahulu berasal dari benih yang bersertifikat.

Bambang menamban Kementan menawarkan solusi integrasi  penanaman kakao dan kopi untuk tanaman kelapa yang direplanting. Misalnya, dengan luas perkebunan kakao yang mencapai 1,7  juta ha , penanaman kelapa dapat dilakukan hampir tanpa naungan.

”Katakanlah 1,7 jua hektare, sebesar 500.000 hektare perkebunan kakao dibuatkan penaung kelapa maka ada peluang peningkatan luas lahan baru areal kelapa,” kata Bambang.

Bambang menambahkan, penanaman pola tanam tumpang sari ini juga dibarengi pada areal perkebunan kopi. Misalnya di Lampung, untuk areal 1 ha saja dapat juga ditanami 50 pohon kelapa . Apabila hal ini dapat dilakukan, maka dapat diperoleh areal perkebunan baru seluas  1,3 juta ha.”Kalau kita mau , areal perkebunan kelapa sebesar 5 juta hektare itu sebenarnya kecil,” terangnya.

Hanya saja untuk penanaman kelapa secara massif seperti ini akan dihadapkan tantangan besar yakni ketersediaan benih unggul benih bersertifikat. Karenanya, dia berharap Badan Litbang Perkebunan  terus mengembangkan benih kepa baik metode konvensional maupun kultur jaringan.

Kepala Badan Litbang Tanaman Kelapa (Balitpalma) Ismail Maskromo menuturkan pihaknya sudah menyiapkan benih sumber tanaman kelapa seperti varietas benih kelapa genjah unggul . Tanaman itu mulai berbuah mulai usia 2 tahun mampu berproduksi maksimal 120 butir/pohon /tahun. Jenis varietas ini mampu menghasilkan nira.

 

Selain itu benih kelapa hibrida Indonesia yang mulai berbunga mulai usia 3 tahun.Dengan potensi produksi lebih dari 3 ton/ha/tahun.Kemudian, ada pula varietas benih kelapa unggul lokal bernama Dalam Sri Gemilang yang spesifik ditanam dilokasi lahan pasang surut.Tanaman ini juga adaptif apabila ditanam di lahan pasang surut.

Untuk kegiatan perbenihan tahun 2017-2018, pihaknya mengindetifikasi terdapat potensi produksi benih kelapa mencapai 15,9 juta butir.Sementara benih kelapa bersertifikat sebesar 4,8 juta butir.Potensi produksi benih kelapa terbesar berasal dari benih unggul nasional (11 varietas), benih unggul lokal (13 varietas) dan pohon induk terpilih dari BPT seluas 3.640 ha.

Ismail tidak menampik ketersediaan benih untuk mendukung program selama dua tahun ini belumlah memadai. Dia memberi solusi dengan membentuk pohon induk sumber benih dan bina dan benih sebar.”Perbanyakan benih kultur jaringan mendesak dilakukan melalui kerjasama antara pemerintah dan swasta,” harapnya.kbc11

Bagikan artikel ini: