Pangkas mata rantai perdagangan, Puspa Agro rambah pasar grosir

Selasa, 19 September 2017 | 23:30 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Panjangnya mata rantai perdagangan produk pertanian di Tanah Air menjadi penyebab tingginya harga komoditas tersebut, sementara kesejahteraan petani justru terabaikan. Sadar akan hal ini, PT Puspa Agro terus berkomitmen untuk menjadi stabilitator harga pangan, dengan melirik bisnis grosir.

BUMD milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur ini tengah mematangkan ekspansi tersebut dengan nama Puspa Grosir, dan ditargetkan bisa terealisasi pertengahan tahun 2018.

Direktur Utama Puspa Agro, Abdullah Muchibuddin mengatakan, sebagai stabilitator Puspa Agro mempuanyai peran untuk memotong atau menyingkat mata rantai sehingga para konsumen bisa mendapatkan komoditas perdagangan dengan harga yang murah dan berkualitas.

"Kami tidak masuk ke ritel karena peran kami sebagai stabilitator akan hilang, lantaran harga jual nanti bakal bersaing dengan para pedagang kecil. Tapi kalau masuk sebagai grosir ini akan menggerakan ekonomi baik konsumen maupun pedagang pasar," katanya di Surabaya, Selasa (19/9/2017).

Dipaparkannya, langkah tersebut juga sebagai upaya dari suksesi Trading House yang selama tiga tahun terakhir ini dijalankannya, dalam menyerap hasil panen petani termasuk nelayan dan peternak, sehingga nilai tambah mereka terus meningkat.

Meski konsepnya sama dengan trading house, lanjut Muchibuddin, namun Puspa Agro akan lebih mirip dengan toko grosir dimana pembelinya adalah pedagang kecil di kampung-kampung secara jual putus.

"Konsumen Puspa Grosir nantinya memiliki member sehingga tidak semua orang bisa beli di toko grosir kami, karena memang fokusnya untuk grosir bukan langsung ke end user," ujarnya.

Saat ini, kata Muchibuddin, Puspa Agro masih melakukan studi banding dengan Bank Indonesia Jawa Timur terkait pasar grosir ini, termasuk rencana menggandeng koperasi, serta titik lokasi toko grosir.

“Kami juga terus menjalin komunikasi dengan beberapa BUMN, BUMD Provinsi, dan BUMD Kabupaten/Kota untuk secara bersama bersinergi dalam menyerap dan mendistribusikan hasil panen petani,” tukasnya.

Muchibuddin menambahkan, saat ini pihaknya juga tengah fokus pengembangan Puspa Trading House, di mana sudah ada 500 gabungan kelompok tani (gapoktan) yang menyuplai bahan-bahan pokok seperti sayur, buah, beras, ayam dan ikan frozen.

Trading House didirikan sejak 2014. Unit usaha tersebut pada 2014 mencatatkan kinerja omset mencapai Rp14,37 miliar atau 780 ton. Pada 2015 omset Trading House meningkat menjadi Rp78 miliar atau 5.485 ton, dan pada 2016 naik menjadi Rp279,12 miliar atau 33.268 ton.

"Tahun ini hingga semester I omsetnya sudah mencapai Rp234,66 miliar atau 30.946 ton. Sampai akhir tahun kami perkirakan omset kami bisa mencapai Rp400 miliar," imbuh Muchibuddin.

Dia menambahkan, peningkatan omset Trading House tersebut merupakan capaian Puspa Agro, salah satunya dengan menggandeng perusahaan pemerintah maupun swasta.

Seperti kerja sama dengan katering PT Pangansari Utama untuk memenuhi permintaan katering di Freeport, PT Indocarter, dengan PT Aero Catering Service (Garuda Indonesia grup), PT Prima Citra Nutrindo untuk melayani 20 rumah sakit di Surabaya.

"Termasuk dengan PT Perikanan Nusantara (Perinus) untuk pemasaran produk ikan. Sedangkan produk beras, kami kerja sama dengan Universitas Brawijaya Malang terutama untuk pemberdayaan petani," pungkasnya. kbc7

Bagikan artikel ini: