Ritel modern kekurangan stok beras medium, ini tanggapan Kemendag

Jum'at, 29 September 2017 | 12:41 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Sebulan pasca ditetapkannya peraturan tentang harga eceran tertinggi (HET), ternyata di sejumlah toko ritel modern mengalami kekurangan stok beras jenis medium.

Padahal sebelumnya Kementerian Perdagangan (Kemendag) menjamin pasokan akan tetap lancar untuk beras premium dan medium pasca aturan HET yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 57/2017 . Untuk beras medium disentra produsen beras ditetapkan sebesar Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp 9.450 per kilgoram dan beras premium Rp 12.800 per kg.

Sekjen Kemendag Karyanto Suprih mengatakan akan melakukan penyelidikan mengapa pasokan di beberapa pasar ritel modern berkurang. Penyelidikan dimaksudkan untuk mengetahui secara pasti apa penyebab sampai terjadi minim stok.

"Enggak, bukan berkurang di ritel modern itu sebenarnya beras premium, nah kita akan isi lagi juga dengan beras medium, sekarang kita sedang bekerja dengan Ditjen Perdagangan Dalam Negeri untuk melakukan pengawasan monitoring, yang kurang di mana akan kita suplai," kata Karyanto, di Jakarta, Kamis (28/9/2017).

Dia berharap dalam waktu tidak terlalu lama penyebab keterlambatan pasokan ke pasar ritel modern dapat diketahui dan segera disikapi pemerintah.Dengan begitu stok di pasar ritel modern untuk beras premium dan medium tersedia lagi. "Sedang diselidiki laporannya," ujarnya.

Sementara itu terkait implementasi Permendag tersebut oleh para pedagang, Karyanto memastikan bahwa sejak Senin kemarin aturan HET sudah berlaku efektif. Dipastikan seluruh penjual beras medium dan premium telah mengikuti ketentuan harga yang telah ditetapkan.

Meski begitu pengawasan dan monitoring dari pelaksanaan aturan ini akan terus digalakkan agar semua pihak patuh terhadap peraturan yang dirilis awal bulan lalu itu."Kita sedang cek kan masih persuasif kita tegur, kita akan tindak tegas (pedagang yang tidak taat aturan), pertama kita kasih peringatan kenapa, kan kita sudah ketemu dengan distributor, kita ketemu semua, sanksi terberat kita cabut izin distributornya kalau enggak taat aturan pemerintah," papar dia.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Ritel (Aprindo) Solihin mengaku  peritel modern  lebih banyak menjual beras premium.Pasalnya, bagi pelaku usaha memperoleh beras berasal dari distributor bukan petani, sehingga hal itu sulit untuk menyesuaikan harga seperti diinginkan pemerintah.

Menurutnya ada sejumlah distributor menawarkan beras medium, namun harganya belum dapat diturunkan sesuai HET Rp 9.450 per kg. "Peritel ikut aturan, tidak mudah membedakan  mana beras medium dan mana premium. Tapi, memang umumnya sebagian besar men­jual premium," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: