Australia rayu Indonesia bebaskan bea masuk sapi bakalan

Selasa, 3 Oktober 2017 | 13:25 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Australia meminta tarif bea masuk untuk sapi bakalan dihilangkan menjadi nol persen. Permintaan tersebut menjadi salah satu isu yang dibahas dalam perundingan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang telah memasuki putaran ke-9.

Negosiator yang memimpin delegasi Indonesia dalam perundingan IA-CEPA, Deddy Saleh, mengatakan permintaan nol tarif tersebut, jika disetujui, maka kedua negara akan menjalankan kerja sama dengan konsep economic power house. Konsep tersebut yakni kerja sama perdagangan yang tidak hanya menyasar pasar masing-masing negara, tetapi juga menyasar pasar di negara lain.

Deddy mencontohkan, apabila tarif bea masuk sapi menjadi nol, maka volume impor sapi dari Australia akan bertambah. Namun, daging sapi tersebut tidak diperuntukkan untuk konsumsi. Tapi harus diolah kembali menjadi produk jadi sehingga dapat diekspor ke negara lain.

"Misalnya jadi corned beef, lalu diekspor," ujar Deddy, di sela perundingan IA-CEPA putaran ke-9 di Hotel JW Marriot, Jakarta, Senin (2/10/2017).

Namun begitu, Deddy memastikan hingga kini belum ada kesepakatan apakah Indonesia akan menyetujui permintaan pembebasan tarif tersebut atau tidak.

Tak hanya untuk produk sapi, Australia juga meminta tarif nol persen untuk sejumlah komoditas lain, salah satunya susu skim. Negosiator yang memimpin delegasi Australia, Trudy Witbreuk mengatakan, susu skim dari Australia saat ini masih dikenai tarif bea masuk. Padahal, dari susu skim tersebut, Indonesia mengolahnya menjadi susu kental manis yang kemudian diekspor ke sejumlah negara lain di Asia.

Faktanya, kara Trudy, kompetitor Indonesia untuk produk susu kental manis saat ini adalah Malaysia. Ia menyebut, negara yang bertetangga dengan Indonesia tersebut sudah memberikan tarif nol persen untuk susu skim Australia. Karenanya, Malaysia dapat mengimpor bahan baku susu skim dengan harga lebih rendah dibanding yang didapat Indonesia.

"Artinya Indonesia membayar biaya yang lebih tinggi. Ini menjadikan susu kental manis Indonesia kurang kompetitif dibanding Malaysia," tutur Trudy. kbc10

Bagikan artikel ini: