Kalbe incar penjualan obat generik Rp690 miliar

Rabu, 4 Oktober 2017 | 15:33 WIB ET

BEKASI, kabarbisnis.com: PT Kalbe Farma Tbk menargetkan penjualan obat generik tumbuh 15% menjadi Rp 690 miliar pada 2018, dibandingkan estimasi tahun ini Rp 600 miliar. Sejak 2014, penjualan obat generik Kalbe rata-rata tumbuh 15-20% per tahun, seiring berlakunya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dijalankan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

“JKN berdampak positif terhadap penjualan obat generik. Saat ini, kontribusinya mencapai 15% terhadap total penjualan obat resep Kalbe,” ujar Direktur Kalbe Michael Buyung Nugroho di sela kunjungan pabrik PT Hexpharm Jaya (HJ), Kawasan Industri Lippo Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (3/10/2017).

Dia melanjutkan, kontribusi obat bebas (over the counter) mencapai 20% terhadap total penjualan, diikuti obat resep 25%, dan sisanya produk nutrisi. Obat generik Kalbe diproduksi HJ.

Presiden Direktur HJ Mulia Lie menambahkan, pihaknya terus meningkatkan kualitas obat generik. HJ memiliki pabrik seluas 19 ribu meter persegi (m2), dengan luas lahan 13.295 m2 berkapasitas 300 juta tablet per bulan. Pabrik ini telah mendapatkan sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Pabrik ini bisa mendukung program JKN melalui penyediaan obat generik berkualitas dengan harga terjangkau. Sebagai pembeda dengan produk generik lainnya, HJ memproduksi obat generik dalam kemasan biru, sedangkan yang lain putih,” papar dia.

Perubahan kemasan, kata dia, bertujuan memudahkan identifikasi obat HJ serta menghindari risiko tertukar dengan produk lain berciri fisik sama. Hal ini sudah melalui proses registrasi dan persetujuan BPOM. Sebelumnya, desain kemasan obat generik diatur dengan akses garis untuk zat aktif tertentu, sedangkan saat ini sudah tak diatur lagi. Yang penting, tercantum logo generik di kemasan. Hingga 2017, HJ telah meluncurkan 49 merek obat dan 84 stock keeping unit obat generik yang mewakili hampir seluruh kelas terapi.

Dia menilai, lonjakan penjualan obat generik dalam beberapa tahun terakhir tak hanya didorong oleh JKN, melainkan juga minat masyarakat terhadap obat ini meningkat. Sebab, kendati harganya murah, pabrikan obat harus tetap memberikan kandungan, efektivitas, keamanan, dan kualitas setara obat bermerek.

“HJ komit untuk mengikuti standar mutu yang sama, mulai dari penelitian dan pengembangan produk, penyediaan bahan baku, hingga proses produksi,” tegas dia. kbc10

Bagikan artikel ini: