34 Negara promosikan teknologi industri peternakan di ILDEX 2017, China terbanyak

Rabu, 18 Oktober 2017 | 22:39 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pameran terbesar industri peternakan bertajuk Internasional Livestock and Diary Expo (ILDEX) 2017 digelar di Jakarta Internasional Exhibition Kemayoran 18-20 Oktober 2017. Dari perhelatan berkelas internasional ini menghadirkan 230 industriawan dari 34 negara untuk mempresentasikan sekaligus mempromosikan teknologi peternakan terbarunya.

Sterring Committe ILDEX 2017 Ruri Sarasono menuturkan, jumlah industriawan  dari China dan Taiwan adalah terbanyak yang ikut berpartipasi dalam ajang berbagi informasi berkaitan teknologi terkini di sub sektor peternakan sekaligus membuka peluang transaksi bisnis. “Setidaknya dari 230 produsen peternakan, 50 delegasi pebisnis berasal dari China termasuk Taiwan,” ujar Ruri kepada kabarbisnis.com di sela pembukaan ILDEX 2017 di Jakarta, Rabu (18/10/2017) .

Sebagai informasi saja, dua produsen pakan dari Negara Tirai Bambu ,terbilang pemain baru yang terjun di bisnis pakan ternak sejak 2010.Adalah  PT New Hope-produsen ini telah membangun dua pabrik di Jawa Timur. Sementara ,satu pabrik berada di Krawang , Jawa Barat dibangun produsen pakan bernama PT East Hope.Semana ini kebutuhan pakan dipenuhi terutama oleh Charoen Pokphand, Japfa dan Cargill.

Ruri berpendapat populasi penduduk sebesar 260 juta jiwa, yang dibarengi peningkatan jumlah kelas menengah tentunya meningkatkan konsumsi domestik produk hewani.China berkepentingan untuk mengenalkan industri manufaktur baik teknologi bahan pakan aditif, obat hewan sekaligus mengekspor seperti peralatan produksi terutama unggas hingga penyedia sistem produksi pakan  ”Atau bisa juga perluasan investasi dari pabrik yang sudah ada,” ujar dia.

Ketua Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) Don Utojo mengatakan  China gencar meningkatkan penetrasi pasar ekspor bukan hanya di sub sektor peternakan khususnya perunggasan. Hal sama merata terjadi disemua sektor produk industri manufakturnya.

Arus investasi tidak mungkin dibatasi,selain itu pemerintah justru mengundangnya.Apalagi konsumsi protein hewani untuk memperbaiki nutrisi dan peningkatan gizi pada tubuh sangat dibutuhkan masyarakat. ”Investasi dibutuhkan karena ada proses nilai tambah, ketimbang Indonesia mengimpor produk jadi,” tegasnya.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Fini Murfiani ini berpendapat ILDEX 2017 menjadi peluang besar bagi unit usaha produksi untuk mengekspor produk unggas mengingat kebutuhan domestik sudah mengalami surplus pasokan baik telur maupun ayam.Unit usaha produksi yang sudah memperoleh rekomendasi ekspor dari Kementan, tentunya sudah mengantongi  persyaratan seperti jaminan keamanan pangan melalui Sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NVK).

Sertifkasi ini merupakan upaya pemerintah dalam memberikan jaminan persyaratan kelayakan dasar dalam sistem jaminan keamanan pangan yang mencakup aspek higine –sanitiasi usaha produk asal hewan.Selain juga adanya status bebas dari outbreak penyakit seperti Avian Influenza.

Mr Nuno Gruettke, Managing Director, VNU Exhibition Asia Pasific mengamini setidaknya 230 perusahaan terbaik untuk berinteraksi dengan 200 pembeli potensial yang diundang dari berbagai negara. Gruettke mengatakan jumlah peserta mengalami peningkatan sebesar 48% dibandingkan tahun sebelumnya.Selain itu, ruang pameran telah berhasil terjual 100%.Gruettke menargetkan sebanyak 8000 pengunjung hingga pameran berakhir.kbc11

Bagikan artikel ini: