Jajakan tisu, Suparma bidik penjualan Rp2,1 triliun di 2017

Kamis, 16 November 2017 | 08:28 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Emiten produsen kertas PT Suparma Tbk (SPMA) optimis bisa meraih pendapatan sebesar Rp 2,1 triliun sepajang tahun 2017. Perseroan memasang target penjualan kertas tahun ini hingga 214.000 ton.

Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu 15 November, manajemen emiten kertas dan kemasan dengan kode saham SPMA mengatakan, target penjualan kertas tahun ini sebesar Rp 2,1 triliun tersebut naik 8,9% dari realisasi penjualan kertas di tahun lalu sebesar Rp 1,93 triliun.

Untuk memacu pendapatan, manajemen SPMA akan memacu kapasitas produksi kertas perusahaan menjadi 214.200 ton per tahun. Asal tahu saja, produksi itu naik 4,44%  dari tahun lalu  2016 sebesar 205.111 ton per tahun. “Dengan produksi sebesar itu,  penjualan bersih  bisa mencapai Rp 2,1 triliun pada 2017,” papar manajemen SPMA dalam keterbukaan informasi, Rabu (15/11/2017).

Perbaikan penjualan bersih tersebut diharapkan mampu mendongkrak laba kotor  SMPA di tahun ini menjadi Rp 316 miliar dan laba usaha menuju Rp 158 miliar. Apalagi, selama 10 bulan pertama tahun 2017 ini, SPMA meraup penjualan bersih sebesar Rp 1,7 triliun, angka ini  mencapai 80,9% dari target 2017. Penjualan kertas sebanyak 176.891 ton, atau 82,7% dari target tahun ini menjadi penyumbang utama penjualan.

Berdasarkan laporan keuangan per kuartal III 2017, SPMA membukukan penjualan bersih sebesar Rp1,52 triliun, atau naik 8,47% year on year dari sebelumnya Rp 1,41 triliun. Penjualan di pasar domestik mendominasi sebanyak Rp 1,4 triliun, adapun pasar ekspor Rp 124,94 miliar.

Peningkatan  penjualan juga ditopang kenaikan harga jual kertas rata-rata menjadi Rp 9,61 miliar per ton, naik 3,8% yoy dari per September 2016 senilai Rp 9,26 miliar. Selain itu, kapasitas produksi meningkat 2,6% yoy menuju 154.872 ton dari sebelumnya 150.918 ton.

Peningkatan produksi turut mengerek pertumbuhan utilisasi pabrik perusahaan iniu per September 2017 sebesar 5,5% yoy. Tingkat utilisasi itu meningkat menjadi 95,6% dari sebelumnya 90,6%. kbc10

Bagikan artikel ini: