Tekan susu impor, Kemenperin usul ada bea masuk tambahan

Jum'at, 17 November 2017 | 22:06 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com:

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengkaji usulan pemberian tarif bea masuk tambahan (surcharge) bagi industri pengolahan susu (IPS) yang melakukan impor namun tidak bermitra dengan peternak lokal. Dengan perolehan pendapatan negara itu akan dikembalikan untuk perbaikan pengembangan usaha sapi perah.

Direktur Industri Makanan,Minuman,Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar  Ditjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Abdul Rohim dalam sebuah workshop di Jakarta, kemarin mengatakan pengenaan bea masuk tambahan akan dikenakan bagi pelaku usaha  yang menolak tawaran pemerintah berkaitan program kemitraan. Pasalnya, saat ini, lebih dari 60 IPS yang tercatat di database Kemenperin, hanya 14 diantaranya yang menyerap Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) dari peternak lokal‎.

Pada 2016, sebanyak 77% kebutuhan susu IPS dipenuhi melalui impor atau 2,8 juta ton setara susu segar.Volume impor susu itu diperoleh apabila merujuk ‎data Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan tahun 2016, kebutuhan sapi nasional sebesar 3,83 juta ton.

Kemenperin mencatat nilai impor produk susu tahun 2015 mencapai US$ 704.202. Sementara di tahun 2017, menurun menjadi US$ 601.541.

Menurutnya disinsentif melalui instrumen tarif bea masuk bagi milk powder ini lazim dilakukan di sejumlah negara. Misalnya India mengenakan tarif bea masuk tambahan sebesar 60%. Bahkan Turki hingga mencapai 180%.

Hal sama juga dilakukan negara indutri maju di Uni Eropa dan Jepang.Sementara di Indonesia hanya mengenakan bea masuk 5%.

Dia menambahkan uang yang terkumpul dari kebijakan tersebut bisa diteruskan untuk subsidi bagi peternak lokal. "Kami berharap tadi uangnya dikembalikan ke peternak untuk mendorong produksinya lebih cepat," kata Rohim.

Ketua Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (ASPSI) Agus Warsito menjelaskan, IPS kerap melakukan impor susu dari peternak luar negeri karena harganya lebih murah dibandingkan SSDN. Ia menduga, harga bisa lebih murah lantaran peternak luar negeri lebih efisien dalam melakukan produksi susu.

Berdasarkan data ASPSI, harga SSDN saat ini berkisar di angka Rp Rp 5.600 - Rp 6.000 per liter. Harga tersebut memiliki selisih Rp 2300- Rp 2400 per liter dengan susu dari luar negeri. "Tentu tidak keliru kalau industri lebih pilih impor daripada menyerap dari sapi lokal," pungkasnya..kbc11

Bagikan artikel ini: