Usai delisting, ini rencana Lamicitra angkat kinerja perusahaan

Sabtu, 16 Desember 2017 | 12:58 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: PT Lamicitra Nusantara Tbk (LAMI) telah mengajukan rencana go private atau delisting dari bursa pada Juni lalu, dan telah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham. Hal ini akan berakibat pada rencana penghapusan saham LAMI di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan rencana tersebut, LAMI akan menjadi perusahaan tertutup.

Saat ini perusahaan yang berpusat di Surabaya ini tengah melakukan proses penawaran tender sukarela untuk saham yang dimiliki publik.

Direktur LAMI, Priyo Setya Budi menuturkan, meski sudah delisting, nantinya perseroan akan tetap fokus pada upaya peningkatan kinerja perusahaan, diantaranya menggarap pasar properti dan kawasan berikat. Bahkan, tahun depan, perusahaan sudah menyiapkan produk apartemen terbarunya, Darmo Hill.

"Meski nanti menjadi perusahaan tertutup, itu tidak akan mengganggu strategi perseroan. Bahkan dengan menjadi perusahaan tertutup, kami akan lebih fokus pada operasional dan kinerja perusahaan," katanya saat paparan publik perseroan di Surabaya, Jumat (15/12/2017).

Sementara itu, terkait kinerja tahun 2018 mendatang, LAMI bertopang pada kinerja real estate yang akan mulai launching produk apartemen Darmo Hill.

Selama ini, real estate yang dikerjakan LAMI masih sebatas mal grosir, yaitu Jembatan Merah Plaza (JMP) dan Pasar Grosir Surabaya (PGS). Juga pengelolaan hotel Tunjungan.

"Target tahun 2018, kami akan mulai jualan produk apartemen Darmo Hill. Diharapkan penjualan apartemen bisa meningkatkan kinerja kami di sektor real estate," tambah Prasetyo Kartika, Direktur Pengembangan PT Lamicitra Nusantara Tbk.

Untuk ekspansi tersebut, perseroan sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp500 miliar. Dana itu untuk membangun satu dari tujuh tower yang akan dibangun.

Untuk satu tower terdiri dari 40 lantai dengan 330 unit kamar. Pembangunan high rise building ini akan dilakukan secara bertahap. "Kami juga akan bangun area lifestyle di apartemen ini," katanya.

Sementara itu terkait kinerja perseroan tahun ini, hingga bulan akhir September 2017 ini dilaporkan mengalami pertumbuhan yang positif. Namun karena adanya peningkatan biaya listrik dan Sumber Daya Manusia (SDM) membuat laba perseroan mengalami penurunan.

Sepanjang 9 bulan pertama tahun 2017, perseroan membukukan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp 77,3 miliar, sementara pendapatan usaha selama tahun 2016 sebesar Rp 95,7 miliar.

"Kinerja perusahaan hingga September 2017 ini, mengalami pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan tahun 2016. Seperti real estate yang tumbuh 6 persen sementara sepanjang tahun 2016 hanya 2 persen. Begitu juga dengan usaha hotel yang naik 27 persen lebih tinggi dibanding satu tahun 2016 yang mencapai 22 persen," kata Priyo Budi Santoso.

Namun, ada juga yang mengalami penurunan, yaitu di sektor jasa depo peti kemas dan sewa dan jasa pelayanan yang dari 3 persen sepanjang tahun 2016, menjadi 0 persen dan 73 persen menjadi 67 persen.

Menurut Priyo, penurunan di sektor jasa depo peti kemas, karena areal yang sebelumnya dimanfaatkan untuk depo, sudah dialihfungsikan menjadi lahan yang dibangun untuk pabrik."Sehingga tidak ada lagi kegiatan sewa depo peti kemas sepanjang tahun 2017 ini," jelasnya.

Hingga akhir tahun 2017, LAMI memprediksi pertumbuhan kinerja juga tidak tumbuh lebih dari 10 persen. Meski tumbuh, laba perusahaan malah turun. Hal itu karena biaya operasional yang lebih tinggi.

"Tahun 2017 ini ada kenaikan tarif listrik dan kenaikan UMR yang berimbas pada operasional SDM. Kenaikannya lebih dari 10 persen sendiri, sehingga laba berkurang," tandas Priyo.

Go private

Sementara itu terkait keputusan untuk go private, Direktur LAMI, Robin Wijaya Gejali menuturkan, perseroan telah melakukan tender sukarela dimana jumlah saham yang ditawarkan sebanyak 81.730.000 lembar saham atau sebesar 7,11% dari jumlah saham yang ditempatkan.

"Dari 217 pemegang saham sebelum tender, ada sebanyak 171 pemegang saham yang ikut, sehingga tinggal sebanyak 47 pemegang saham," jelasnya.

Dengan harga penawaran tender sebesar Rp 814 per saham, dalam tender terjadi kesepakatan sebesar Rp 513 per saham. Saat awal perseroan mencatatkan saham di bursa pada 18 Juli 2001, harga perdana dipatok Rp 125 per saham.

"Kami sudah menunjuk konsultan audit untuk mengecek apakah ada yang salah dalam delisting ini. Hasilnya akan kami sampaikan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jika semua sudah clear, status perusahaan tertutup akan kami kantongi," pungkasnya. kbc7

Bagikan artikel ini: