Ekspor batik RI tembus Rp693 miliar, tiga negara ini jadi tujuan utama

Jum'at, 22 Desember 2017 | 08:35 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan industri batik berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Bahkan sektor yang didominasi oleh industri kecil dan menengah (IKM) ini mampu menyumbang devisa negara yang cukup signifikan dari ekspor.

“Industri batik nasional memiliki daya saing komparatif dan kompetitif di pasar internasional. Indonesia menjadi market leader yang menguasai pasar batik dunia,” ujar Direktur Jenderal IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih dalam keterangan tertulisnya, Kamis (21/12/2017).

Kemenperin mencatat, nilai ekspor batik dan produk batik sampai Oktober 2017 mencapai US$ 51,15 juta atau setara dengan Rp 693,4 miliar (kurs Rp 13.557). Angka ini naik dari capaian semester I 2017 sebesar US$ 39,4 juta. Tujuan pasar utamanya ke Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.

Selain itu menurut Gati, perdagangan produk pakaian jadi dunia yang mencapai US$ 442 miliar menjadi peluang besar bagi industri batik untuk meningkatkan pangsa pasarnya. Hal ini mengingat batik sebagai salah satu bahan baku produk pakaian jadi.

“Batik telah bertransformasi menjadi berbagai bentuk fesyen, kerajinan dan home decoration yang telah mampu menyentuh berbagai lapisan masyarakat dari berbagai kelompok usia dan mata pencaharian di dalam dan luar negeri,” kata dia. Hingga saat ini, IKM batik tersebar di 101 sentra seperti di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan D.I Yogyakarta. Jumlah tenaga kerja yang terserap di sentra IKM batik mencapai 15 ribu orang.

Gati menjelaskan, dalam upaya mendongkrak produktivitas dan daya saing IKM batik, Kemenperin telah melakukan berbagai program strategis, antara lain peningkatan kompetensi sumber daya manusia, pengembangan kualitas produk, standardisasi, fasilitasi mesin dan peralatan, serta kegiatan promosi dan pameran batik di dalam dan luar negeri.

Guna meningkatkan akses pasar, lanjut dia, Kemenperin memiliki program e-Smart IKM yang bekerja sama dengan beberapa marketplace. “Melalui program e-Smart ini produk batik di dorong untuk memasuki pasar online, sehingga memiliki jangkauan pasar yang lebih luas karena dapat diakses oleh konsumen dari berbagai daerah,” jelas dia.

Selain itu, Kemenperin juga mendorong agar para perajin batik memperoleh berbagai fasilitas pembiayaan seperti kredit usaha rakyat (KUR), Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonsia (LPEI) dan insentif lainnya untuk memperkuat struktur modalnya.

"Dengan demikian, diharapkan industri batik nasional dapat tumbuh signifikan dan daya saingnya meningkat,” lanjut dia.

Ke depan, Gati berharap pengembangan industri batik nasional dapat dijalankan secara kolaborasi antara pemerintah dengan akademisi, pelaku usaha, dan komunitas.

“Hal ini sangat penting karena setiap stakeholder tersebut memiliki peran yang berbeda, sehingga dengan sinergi ini pengembangan industri batik nasional akan terintergrasi dan sustainable dari hulu sampai hilir,” tandas dia. kbc10

Bagikan artikel ini: