Bukan hanya penjualan online, ini permasalahan yang dihadapi industri sepatu

Jum'at, 2 Februari 2018 | 22:04 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Penutupan gerai sepatu Clarks menjadi gambaran sulitnya industri sepatu saat ini. Selain tergerus oleh pasar online, produsen sepatu juga dihadapkan beragam masalah lain mulai dari penyewaan gerai yang mahal hingga kebijakan berbisnis di Tanah Air yang kurang kondusif.

Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko mengatakan, untuk berkembang industri sepatu harus diberikan insetif. Pasalnya saat ini belum ada langkah progresif dari pemerintah untuk bisa memberikan insentif yang pasti.

Saat ini kebijakan khusus di masalah bea masuk terkadang berubah-ubah sehingga produsen tidak bisa mendapatkan fix cost untuk bahan baku impor. Belum hal lain seperti pajak yang diberikan, faktur dan hal lainnya yang menghambat pertumbuhan industri.

"Buat produsen sepatu, banyak bahan baku harus impor. Jadi harus dibuat insentif bahan baku dan prosesnya harus dipermudah," ujarnya, Jumat (2/2/2018).

Dirinya mengatakan, saat ini untuk impor bahan baku masih dipersulit dengan aturan main. Itulah kenapa sulit bagi pemain di industri sepatu untuk bertumbuh. Apalagi kalau ditilik, adanya toko online juga membuat industri sepatu domestik khususnya di ritel menjadi lesu.

Bahkan di segmen sepatu sport yang disebut-sebut merupakan segmen yang terus tumbuh menurutnya justru menurun. "Segmen sport memang ada penguatan tapi untuk pasar ekspor, kalau di lokal menurun," lanjutnya.

Oleh karena itu, dirinya mengatakan industri sepatu domestik dalam 1-2 tahun ini akan mengalami stagnasi. Pemerintah perlu melakukan insentif-insentif agar tidak melulu segmen industri sepatu ini limbung diterpa online maupun kebijakan-kebijakan yang tidak pasti.

Liong Pangkiey, Marketing Manager PT Ardiles Ciptawijaya menyampaikan, saat ini industri masih dihadapkan oleh persoalan administratif penjualan, pencetakan faktur pajak, bea masuk, impor bahan baku dan lainnya membuat produsen sepatu berada dalam kondisi sulit.

Dirinya mengharapkan adanya kepastian kebijakan dan aturan, sehingga sebagai produsen yang juga berorientasi ekspor perusahaannya bisa berkembang. Lain dari itu, menurutnya perlu adanya pajak final yang tidak merepotkan secara administratif.

"Saya harapkan ada PPN final sehingga jualan sepatu lebih mudah," tambahnya.

Budiharta Hanse, Senior Commerce Manager PT Sepatu Bata Tbk (BATA) menambahkan, produsen dan peritel sepatu perlu beradaptasi terhadap kondisi saat ini. Oleh karena itu, pihaknya akan lebih inovatif dalam menggarap pasar yang ada. kbc10

Bagikan artikel ini: