Butuh duit Rp4,5 triliun, Bank Muamalat berburu investor Malaysia hingga Timur Tengah

Kamis, 1 Maret 2018 | 08:31 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Meski rencana masuknya PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) sebagai investor batal dilakukan, namun PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (BMI) tetap akan melanjutkan proses penghimpunan dana melalui penerbitan saham (right issue) sebesar Rp 4,5 triliun.

Direktur Utama Bank Muamalat, Achmad Kusna Permana mengatakan, pihaknya saat ini masih dalam proses pencarian investor. "Rights issue tetap akan dilakukan. Seperti yang disampaikan Rp 4,5 triliun melalui cari investor," tuturnya di Muamalat Tower, Jakarta, Rabu (28/2/2018).

Permana mengaku saat ini sudah bertemu dengan beberapa investor potensial. Mereka bukan hanya datang dari dalam negeri tapi juga beberapa negara lainnya. "(Investor potensial) dari Malaysia, Timur Tengah, lokal juga. Ini perlu waktu," tuturnya.

BMI juga membuka peluang masuknya investor dalam bentuk konsorsium atau patungan. Pihaknya menargetkan proses rights issue akan bisa direalisasikan pada kuarta I tahun ini.

Sebab dana itu dibutuhkan untuk biaya pencadangan dan pengembangan bisnis. Pihaknya juga berencana akan menerbitkan obligasi syariah alias sukuk sebesar Rp 1 triliun di semester I tahun ini

"Nanti akan disclose kita akan sampaikan yang akan disetujui," pungkasnya.

Sekedar informasi tahun lalu Bank Muamalat Indonesia mengeluarkan pernyataan akan menerbitkan saham baru untuk tambahan modal perseroan. Namun rencana aksi korporasi tersebut gagal karena calon investor disebut kehabisan waktu untuk mengakuisisi.

Rasio kecukupan modal Bank Muamalat per September 2017 tercatat 11,58% turun dibanding periode yang sama tahun 2016 12,75%. Berdasarkan statistik perbankan syariah (SPS) per September 2017 rata-rata rasio kecukupan modal bank syariah nasional 16,16%.

Berdasarkan laporan keuangan Bank Muamalat, non performing financing atau rasio pembiayaan bermasalah Bank Muamalat 2015 secara kotor sempat melewati batas aman dari regulator yakni, 7,46% atau sebesar 1,36 triliun, kemudian pada 2016 mulai membaik di posisi 3,97% atau Rp 696,2 miliar. Periode September 2017 NPF tercatat 4,54%. kbc10

Bagikan artikel ini: