Perkuat eksistensi pasar, Lenzing incar mitra inovatif

Kamis, 5 April 2018 | 14:16 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Tuntunan konsumen utamanya yang bermukim di daerah tropis tentunya memilih produk pakaian yang dapat digunakan beraktifitas seharian. Namun, produk tersebut haruslah memenuhi rasa nyaman meski tidak jarang  diperuntukkan acara formal.

Lenzing Group, perusahaan asal Austria sebagai induk PT South Pasific Viscose (SPV) menjawab hal tersebut  memproduksi serat rayon viscosa sebagai bahan baku benang pintal (industri tekstil) dan non waven. Kini dengan merilis merk dagang Tencel yang bahan bakunya berasal serat selulosa yang diantaranya berasal dari kulit pepohonan hutan produksi berkelanjutan.

Commercial Head South East Asia Lenzing Indonesia Winston A. Mulyadi menuturkan kehadiran  Tencel yang diperuntukan langsung kepada peritel dan tingkat konsumen .Berdasarkan jenis serat terbagi dalam tencel Modal dan Tencel Lycocell.Produk ini diluncurkan ulang bersamaan pameran bisnis dan teknologi tekstil Indo Internetex 2018 di JIEXPO.

Langkah penting Lenzing , sambung Winston menyusul beralihnya dari business to business (B2B) menjadi business  to business to consumer (B2B2c).Rebranding perusahaan ini menurut Winston sebagai upaya perusahaan mengenal semua konsumen sekaligus mitra potensial.

Adapun menjadi visi Lenzing  untuk tumbuh besar dan berkembang bersama sehingga perusahaan meyertakan target pertumbuhan dan marketing penjualan yang akan diperoleh.”Saya analogikan ketika intel prosesor dirilis untuk menjualnya membutuhkan partner produsen hardware komputer seperti lenovo atau dell,” ujar Winston kepada kabarbisnis.com usai peluncuran merk dagang Tencel  di Jakarta, Kamis (5/4/2018).

Winston menunjuk PT Harapan Kurnia Textile Indonesia sebagai produsen yang menjajakan berbagai jenis bahan baik dari katun, modal , polyster dan tencel .Adapun mayoritas produk tekstil Indonesia atau 60% berbahan baku polyster dari serat sinteteis.sekitar 60%. “Melalui  Harapan Kurnia yang sudah beroperasi lebih dari 45 tahun berusaha  memperkenal produk Tencel  kepada end consumer,” terangnya.

Bahkan Wendi Kurnia sebagai owner perusahan kain ini menyambangi para desainer, termasuk pebinsis pemula produk garmen di Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan memperkenalkan Tencel  yang berasal dari  serat selulosa sehingga ramah lingkungan. Bahkan Wendi juga memfasilitasi pendampingan  pembiayaan perbankan dan akses pasar ekspor .

Serat selulosa produk Lenzing sudah digunakan sejumlah brand premium uniqlo, mark spencer, zara dan armani. Sementara di dalam negeri seperti east dan MRA Group. Kapasitas produksi PT SPV di Purwakarta, Jawa Barat sebesar 325.000 ton. Pabrik ini sudah beroperasi sejak 1981. Lenzing Group menanamkan modalnya ke  PT SPV sejak 2011.

“Sekitar 65 persen didominasi pasar dalam negeri. Sementara untuk pasar ekspor sebesar 35 persen. Bisnis serat rayon semakin ketat karena badan usaha  sejenis  beroperasi  beberapa tahun terakhir,vendor tentunya memiliki beberapa pilihan.Mampu mempertahankan pangsa pasar di dalam negeri seperti saat ini juga sudah bagus,” kata  Winston.

Kementerian Perindustrian mencatat kapasitas produksi industri serat rayon nasional mencapai 565.000 ton pada2017. Kemudian meningkat di tahun 2018 ini diperkirakan mencapai 700.000 ton melalui ekspansi PT Rayon Utama Makmur .Adapun ditahun 2019 mendatang sebesar 1 juta ton. Dua kompetitor industri serat rayon nasional lainnya  adalah PT Indo Bharat dan PT Sateri Viscose. kbc11

Bagikan artikel ini: