TPT jadi percontohan implementasi Industri Digital 4.0

Minggu, 8 April 2018 | 19:37 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Industri tekstil dan produk tektil (TPT) nasional pada tahun 2017 mampu tumbuh 3,45%, melonjak tajam dibanding tahun sebelumnya yang minus 1%.Sektor ini berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, antara lain melalui penyerapan tenaga kerja sebanyak 3,58 juta orang atau menyumbang 21,2%  dari total tenaga kerja industri manufaktur.

Tak hanya itu, industri TPT juga penghasil devisa negara yang signifikan dari nilai ekspor TPT sebesar USD12,59 miliar atau 10,1% dari total ekspor manufaktur tahun 2017. Industri TPT juga menyumbang sekitar 1,07% terhadap PDB nasional, dan mencatatkan nilai investasi hingga Rp 10,19 triliun pada tahun 2017.

Dengan potensi tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah menetapkan industri TPT sebagai salah satu sektor yang akan menjadi percontohan pada implementasi Industri 4.0 di Indonesia. Guna menopang daya saingnya, Kemenperin terus meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di sektor ini agar mampu menguasai perkembangan teknologi digital.

"Khusus untuk memasok tenaga kerja di industri TPT, kami memiliki Akademi Komunitas Tekstil Solo dan penyelenggaraan Diklat 3in1 (pelatihan, sertifikasi kompetensi, dan penempatan kerja) untuk operator mesin garmen," tutur Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (8/4/2018).

Selain itu, Kemenperin gencar melaksanakan program pendidikan vokasi yang link and match antara industri dengan Sekolah Menengah Kejuruan di berbagai daerah. "Pemerintah juga tengah membahas terkait perdagangan internasional, agar tarif bea masuk tekstil atau garmen kita bisa di-nol-kan oleh negara lain. Misalnya saja dengan Australia, kami menargetkan CEPA dengan Australia bisa selesai pada Juni. Kami yakin, kalau semua tarif sudah menjadi nol, ekspor tekstil atau garmen kita akan meningkat," paparnya.

Di samping itu, Kemenperin fokus mengembangkan industri kecil dan menengah (IKM) di Jawa Tengah agar siap memasuki era Industri 4.0. Salah satu langkahnya adalah mendorong mereka memanfaatkan e-commerce untuk melakukan bisnis pada era digital saat ini. "Kami punya banyak pelatihan, contohnya workshop e-Smart IKM," ungkapnya.

Menurut Airlangga, generasi milenial menjadi aset penting Indonesia ke depan dalam membangun sektor manufaktur agar semakin tumbuh dan berdaya saing global, seiring dengan bonus demografi yang akan diperoleh pada tahun 2020-2030. "Ada tiga pelajaran yang mutlak dikuasai oleh generasi milenal kita agar bisa bersaing di Industri 4.0, yakni bahasa Inggris, statistik, dan coding," tegasnya.

Wakil Ketua Komisi VI DPR Dito Ganinduto mengapresiasi peluncuran Peta Jalan Making Indonesia 4.0 yang diinisasi oleh Kemenperin dalam memasuki era Industri 4.0. "Roadmap ini menjadi angin segar bagi perbaikan kondisi industri manufaktur kita," ujarnya.

Dia menilai, implementasi Industri 4.0 akan meningkatkan pengembangan sektor manufaktur dalam negeri. Misalnya untuk industri TPT, Indonesia perlu mengembangkan pakaian yang lebih spesifik untuk tujuan ekspor, seperti pakaian olah raga atau yang khas nusantara seperti batik. "Indonesia juga perlu meningkatkan keahlian tenaga kerjanya di industri TPT," kata Dito.kbc11

Bagikan artikel ini: