Menperin klaim industri fesyen muslim serap 1,1 juta tenaga kerja

Selasa, 24 April 2018 | 17:32 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menargetkan, Indonesia menjadi kiblat fesyen muslim di dunia pada tahun 2020. Tentunya hal itu akan membuat perekonomian Indonesia terus tumbuh.

Airlangga menyebut, nilai ekspor produk fashion nasional pada 2017 mencapai US$13,29 miliar atau sekitar Rp138 triliun. Jumlah tersebut naik sebesar 8,7 persen dibanding tahun sebelumnya.

"Sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi kiblat fashion muslim di dunia," kata Airlangga beberapa waktu lalu.

Saat ini industri busana muslim diproyeksikan menyerap tenaga kerja sebanyak 1,1 juta orang dari total 3,8 juta tenaga kerja industri fashion. Indonesia sendiri menempati peringkat lima besar dari negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) sebagai pengekspor fashion muslim terbesar di dunia, setelah Bangladesh, Turki, Maroko, dan Pakistan.

Dia meyakini dalam kurun beberapa waktu terakhir industri busana muslim di Indonesia terus naik. Hal itu seiring semakin luasnya pasar komoditas fashion tersebut dan meningkatnya jumlah penduduk muslim di dunia.

Karena itu, Airlangga menargetkan ekspor busana muslim Indonesia bisa meningkat sebesar 10 persen pada 2018. "Untuk menjadi pusat mode muslim dunia, ekspor produk muslim didorong untuk menjadi yang tertinggi di dunia," ucap Airlangga.

Ketua Umum Partai Golkar itu berharap industri busana muslim di Indonesia semakin tumbuh dan berkembang sehingga mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap sektor fashion serta perekonomian nasional.

"Oleh karena iu, kami terus mendorong para pelaku industri fashion muslim dan para desainer di Indonesia untuk terus berinovasi dan meningkatkan produktivitasnya serta memperkuat brand-nya sehingga mampu menembus pasar ekspor," tutur dia.

Sementara itu, Global Islamic Economy memprediksi pertumbuhan pasar fashion muslim dunia pada 2020 akan mencapai US$327 miliar atau setara Rp4.522 triliun.

Pada Muffest 2018 ini, Kemenperin memfasilitasi sebanyak 12 brand fashion muslim dari berbagai daerah di Indonesia untuk ikut serta dalam ajang tersebut.

"Kami menilai event ini telah memberikan kontribusi yang cukup besar dalam menumbuh dan mengembangkan industri fashion muslim nasional terutama dalam melahirkan desainer dan wirausaha baru yang kreatif dan inovatif," ucap Airlangga.

Peta jalan industri fashion muslim

Dirjen Industri Kecil Menengah Kemenperin Gati Wibawaningsih menyampaikan bahwa jajarannya tengah menyusun peta jalan dan rencana aksi yang terintegrasi dari sektor hulu sampai hilir untuk mengembangkan industri fashion muslim nasional.

"Beberapa waktu lalu, kami melakukan pertemuan dengan para desainer, asosisasi, pelaku usaha industri fashion muslim serta akademisi untuk merumuskan langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan untuk mewujudkan visi ke depan," ujarnya.

Sejalan dengan upaya tersebut, Kemenperin akan memitrakan desainer dengan IKM fashion muslim dalam membangun brand nasional.

"Kami juga akan mengadakan kompetisi fashion muslim dan memfasilitasi desainer dan industri fashion muslim pada berbagai event pameran dan fashion show di dalam dan luar negeri sehingga visi Indonesia untuk menjadi kiblat fashion muslim dunia pada 2020 dapat terwujud," kata Gati.

Pada Februari 2018, Kemenperin telah memberikan pelatihan dan sertifikasi SKKNI kepada 15 pelaku industri busana muslim di Jawa Barat. Bahkan, untuk memperluas jangkauan pasar produk fashion muslim, Kemenperin memiliki program e-Smart IKM yang telah diluncurkan sejak 2016. "Kami telah bermitra dengan lima marketplace, yaitu Shopee, Bukalapak, Tokopedia, Blanja.com dan Blibli," katanya.

Pada 2017, Ditjen IKM telah melakukan workshop e-Smart IKM kepada 1.730 IKM dan tahun 2018 akan dilakukan loka karya serupa dengan target dapat menggandeng sebanyak 4.000 pelaku IKM. kbc10

Bagikan artikel ini: