Saint-Gobain Gyproc Indonesia hadirkan teknologi bahan bangunan RS yang ramah bagi pasien

Kamis, 26 April 2018 | 18:37 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Cepat atau lambatnya proses penyembuhan pasien di rumah sakit (RS) selain tergantung pada penanganan oleh pihak dokter, juga dipengaruhi oleh faktor eksternal. Salah satunya adalah desain bangunan dan material yang ada di gedung rumah sakit yang bersangkutan.

Konsep fisik bangunan RS tentu berbeda dengan gedung pada umumnya. Karena di sini harus ramah terhadap pasien dan keluarganya, sehingga harus memberikan kenyamanan, dan keamanan.

Ir. Adi Utomo Hatmoko, M. Arch, penulis buku Arsitektur Rumah Sakit menuturkan, fisik RS merupakan hal yang sangat penting. Yang termasuk dalam bidang fisik RS antara lain yaitu mencakup bangunan, performansi ruang, tata lansekap, dan infrastruktur pendukung dimana haruslah memiliki unsur kenyamanan, keindahan, serta keberhasilan pada lingkungan yang secara keseluruhan dapat membangun citra layanan kesehatan yang baik serta memberikan kesan positif bagi seluruh pengguna RS.

“Dalam sebuah bangunan RS yang telah memenuhi kriteria arsitektur RS diharapkan pasien dapat merasakan bangunan yang memberikan kesan nyaman dengan pengaruh dari lingkungan yang ada di sekitar bangunan. Salah satu indikator keberhasilan bangunan RS dapat dilihat dari kenyamanan dalam pemanfaatannya sehingga diharapkan dapat berpengaruh positif terhadap proses penyembuhan pasien,” Adi Utomo yang juga telah merancang berbagai RS di Indonesia, salah satunya yaitu RS Muhammadiyah Gresik, dalam acara bertajuk ‘Serial Workshop on Hospital Architecture & Business Strategy]’ di Hotel Mercure Grand Mirama, Surabaya, Kamis (26/4/2018).

Sadar akan pentingnya konsep sebuah bangunan RS, PT Saint-Gobain Construction Product Indonesia (SGCPI) atau dapat juga disebut Saint-Gobain Gyproc Indonesia menghadirkan sebuah inovasi teknologi bahan bangunan terkini yang telah dipercaya sebagai material bangunan di RS.

Technical Support Manager Saint-Gobain Gyproc Indonesia, Kriswido Prasetya mengungkapkan produknya telah diaplikasikan di sejumlah rumah sakit di Tanah Air, salah satunya di proyek Gedung Baru RS St. Carolus Salemba, Jakarta yaitu papan gypsum Habito dan XRoc.

Habito merupakan dinding gypsum yang sangat kuat dan telah lulus uji beban sehingga mampu untuk menahan hingga 30 kg per titik pemasangan. Hal ini juga memungkinkan pengguna untuk memasang barang-barang seperti rak TV, kitchen set, meja pajangan, lukisan dan lainnya dengan mudah, langsung di tempat yang diinginkan tanpa bantuan alat khusus.

Sementara XRoc merupakan teknologi papan gypsum yang khusus digunakan untuk ruangan X-Ray yang aman dan ramah lingkungan.

“Hasil uji lapangan juga telah menunjukkan hasil yang sangat memuaskan. Proyek gedung baru RS St. Carolus, Salemba – Jakarta yang merupakan pengembangan modern dari bangunan lama ini adalah proyek revolusioner yang didorong oleh keinginan untuk membangun sebuah gedung RS dengan spesifikasi konstruksi terbaik, mulai akustik, perlindungan terhadap api, daya tahan bangunan, sisi estetika serta menciptakan lingkungan sehat dengan material yang bebas toksik serta ramah lingkungan,” jelas Kriswido.

Lebih jauh lagi Kriswido menekankan bahwa XRoc ini didesain untuk  menggantikan timbal, di mana biasanya timbal dipakai sebagai pelapis di ruang radiologi untuk menahan radiasi dari mesin X-Ray. “Sistem ini selain mudah dalam pemasangan juga memberikan keamanan dan ramah terhadap lingkungan,” tandasnya.

Saint-Gobain Gyproc Indonesia sebagai penyedia solusi plafon dan dinding gypsum sangat menyadari bahwa sebuah fisik bangunan RS yang baik tentu membutuhkan bahan bangunan yang baik pula. Seperti kita ketahui, fisik RS (bangunan, performansi ruang, tata lansekap, dan infrastruktur pendukung) merupakan hal yang sangat penting. Di mana  haruslah memiliki unsur  kenyamanan, keindahan, serta keberhasilan pada lingkungan yang secara keseluruhan dapat membangun citra layanan kesehatan yang baik. Untuk itu, melalui bahan bangunan yang berkualitas seperti papan gypsum Gyproc, diharapkan, sebuah  bangunan yang indah, fungsional, efisien dan bersih tentunya dapat memberikan kesan yang positif bagi seluruh pengguna RS.

Acara yang diinisiasi oleh Anabata, event promoter yang mengkhususkan pada bidang arsitektur dan desain ini dihadiri oleh sekitar 90 perwakilan RS di Jawa Timur dan Bali. “Kurangnya informasi mengenai perkembangan terkini pembangunan fisik RS yang baik menjadikan acara ini perlu diselenggarakan, agar dapat menjembatani ketimpangan tersebut,” Briantarra Ajibadi, sebagai founder dari Anabata menjelaskan tentang maksud dan tujuan dari diadakannya Serial Workshop on Hospital Architecture & Business Strategy. kbc7

Bagikan artikel ini: