Harga telur masih tinggi, Mendag sebut ini penyebabnya

Senin, 16 Juli 2018 | 19:51 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ada gejala anomali atas harga telur ayam ras sebagai sumber protein hewani yang selama ini digandrungi hampir semua lapisan masyarakat karena harganya relatif murah . Lazimnya, habis Lebaran harga telur di pasar kembali normal.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, harga rata-rata nasional telur ayam pada Senin (16/7/2018) tercatat Rp 27.200/kilogram (kg).Sementara itu, harga rata-rata di DKI Jakarta lebih tinggi yakni Rp 28.900/kg.

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menjelaskan sejumlah faktor yang menyebabkan harga telur di pasaran naik drastis. Salah satunya karena tingkat produktivitas ayam yang menurun.

Demikian dikatakan Mendag usai melakukan pertemuan dengan Kementerian Pertanian (Kementan), Satuan Tugas Pangan, dan Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU. "Ini juga dilakukan penelitian oleh dinas dan kementerian kita sepakat kurangi kadar obat-obatan agar lebih sehat terutama antibiotik tapi cukup berisiko," ujar Mendag kepada wartawan di Jakarta, Senin (16/7/2018).

Ia mengatakan adanya masa libur lebaran yang panjang membuat suplai ke pasar terjadi pengurangan yang signifikan. Pasalnya, mulai dari pekerja peternakan hingga pedagang saat itu juga libur sehingga tidak ada yang memasok ke konsumen. "Dari sisi sulpai ke pasar sampai ke langsung ke konsumen terjadi pengurangan yang diakibatkan masa libur yang panjang ini ternyata para mereka yang kerja di peternakan juga mau cuti," terangnya.

Bahkan, cuaca ekstrim yang terjadi beberapa saat lalu juga menjadi biang kerok naiknya harga telur dan daging ayam."Kita bukan cari ayam hitam ada juga cuaca ekstrim. Kita lihat di Dieng bersalju," kata dia.

Menurutnya kenaikan harga biasanya terjadi pada saat H-7 menjelang Ramadan termasuk telur dan ayam. Sejak H-10, ia sudah mulai mengimbau semua pihak agar masing-masing mengendalikan diri agar harga tidak melonjak terlalu jauh."Alhamdulillah berhasil telor dulu kalo ayam terjadi di saat-saat akhir. Biasanya abis itu harga turun h+ sekian," kata Mendag.

Namun ternyata, setelah Lebaran terjadi anomali kenaikan harga ayam dan telur yang seharusnya sudah kembali normal. "Nah faktor-faktor ini yang terakumulasi sehingga pasokan pendistribusian ini relatif terganggu," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: