LPS sebut era bunga kredit mahal bakal segera dimulai

Rabu, 18 Juli 2018 | 21:38 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memproyeksi tingkat suku bunga kredit bank akan meningkat dalam kurun waktu 3-4 bulan ke depan. Artinya, era bunga mahal kredit bakal segera dimulai, meski hanya berlaku bagi sektor dan segmen kredit tertentu.

Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah mengatakan hal ini sejalan dengan kenaikan bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang telah mencapai 100 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen dalam dua bulan terakhir.

"Suku bunga kredit akan naik dalam 3-4 bulan, tapi apakah ini akan sama dengan kenaikan dari BI, itu tergantung pada masing-masing bank," ujar Halim di kantornya, Rabu (18/7).

Lebih lanjut, LPS memperkirakan kenaikan bunga kredit bank akan lebih dulu menyasar segmen kredit modal kerja. Sebab, ada kecenderungan bank bisa mengubah perjanjian kredit yang diberikan ke debitur yang umumnya merupakan korporasi.

Di sisi lain, segmen kredit konsumer diperkirakan bakal ditahan oleh bank mungkin hingga 6-12 bulan ke depan. Meski begitu, kepastian kenaikan bunga sesuai segmen kredit bergantung pada arah bisnis dan pangsa pasar masing-masing bank.

"Jenis bank yang diyakini akan tetap besar pangsa pasarnya, tidak akan dia ubah karena yakin nasabah tidak akan lari," terangnya.

Kendati secara keseluruhan bank diproyeksi bakal mengerek bunga kreditnya, namun, Halim bilang, sebenarnya masih ada potensi bagi bunga kredit untuk tetap ditahan oleh perbankan. Sebab, masing-masing bank memiliki struktur Dana Pihak Ketiga (DPK) dan pertumbuhan kredit yang berbeda.

Pada Bank Umum Kategori Usaha (BUKU) 1 dan 2 misalnya, masing-masing memiliki modal inti senilai Rp100 juta sampai Rp1 triliun dan Rp1-5 triliun. Menurutnya, kedua kategori bank itu sebenarnya masih punya ruang untuk menahan kenaikan bunga kredit karena pertumbuhan kredit mereka sedang 'tokcer'.

Berdasarkan data LPS, pertumbuhan kredit bank BUKU 1 mencapai 17,31 persen secara tahunan pada Mei 2018, naik dari Mei 2017 sebesar 9,15 persen. Sedangkan penyaluran kredit BUKU 2 naik dari 5,24 persen menjadi 9,82 persen pada periode yang sama.

Meski DPK kedua BUKU itu tengah tertekan. DPK BUKU 1 turun dari 7,01 persen per Mei 2017 menjadi 0,02 persen per Mei 2018. Sedangkan DPK BUKU 2 turun dari 9,28 persen menjadi 4,36 persen.

"Tapi untuk mempertahankan pertumbuhan kredit, BUKU 1-2 rasanya akan tetap agresif dan bunga tidak dinaikan," jelasnya.

Begitu pula dengan bank BUKU 4 yang memiliki modal inti di atas Rp40 triliun. Hal ini karena pertumbuhan DPK bank kategori ini masih cukup baik dibandingkan yang lain, meski turun dari 14,8 persen menjadi 8,34 persen. Namun, penurunannya tidak setinggi kategori lain.

Menurutnya, DPK yang masih mencukupi di bank BUKU 4, akan diteruskan untuk mengejar pertumbuhan kredit agar sama dengan tahun lalu. Sebab, per Mei 2018 pertumbuhan kredit baru 11,27 persen, padahal Mei 2017 mencapai 13,13 persen.

Sedangkan bank BUKU 3 dengan modal inti di bawah Rp30 triliun diperkirakan lebih cenderung mengerek bunga kredit. Pasalnya, likuiditas mereka cenderung lebih ketat dari kategori lain. Tercatat, DPK BUKU 3 turun dari 6,33 persen menjadi 4,03 persen per Mei 2018. Sedangkan pertumbuhan kredit naik dari 4,02 persen menjadi 9,19 persen.

"DPK BUKU 3 itu mengalami koreksi yang cukup dalam pada Mei 2018, ini karena diserap oleh BUKU 4, sehingga DPK BUKU 4 tetap cukup tinggi," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: