Kurangi ketergantungan impor, industri farmasi diminta bikin bahan baku lokal

Kamis, 19 Juli 2018 | 07:28 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia memiliki beragam potensi bahan baku farmasi lokal. Anehnya, hingga kini laju impor baha baku farmasi masih tinggi.

Oleh karenanya, Kementerian Perindustrian mendesak industri farmasi nasional untuk menciptakan produk biofarmasi berbahan baku alam sebagai subtitusi impor.

Menteri perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan upaya ini untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor berbasis kimia, juga seiring dengan langkah strategis dalam menerapkan revolusi industri 4.0 di Indonesia.

"Ke depan, biofarmasi akan menjadi solusi. Untuk itu, kita harus bisa mengoptimalkan kekayaan hayati yang kita miliki. Riset dan pengembangan yang lebih intens juga harus terus dilakukan," kata Airlangga beberapa waktu lalu.

Guna memacu tumbuhnya inovasi produk di sektor industri, menurut dia, pemerintah tengah menyiapkan pemberian fasilitas insentif.

"Kemarin, ketika rapat terbatas dengan Bapak Presiden (Joko Widodo), salah satu yang akan didorong adalah biofarmasi. Jadi, daya saing industri ini akan dipacu dengan menciptakan subsitusi impor dan membangun pabrik bahan baku obat di Indonesia," ujarnya.

Kemenperin mencatat, industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional tumbuh sebesar 6,85 persen pada tahun 2017. Sedangkan, industri bahan kimia dan barang kimia termasuk industri kosmetik dan bahan kosmetik mengalami pertumbuhan sebesar 3,48 persen.

"Industri tersebut pada tahun lalu diketahui memiliki kontribusi sebesar Rp67 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) Tanah Air," ungkap Airlangga.

Menperin meyakini, Indonesia merupakan pasar yang cukup besar dan menjanjikan bagi produsen farmasi, kosmetik dan jamu, seiring meningkatnya jumlah populasi penduduk.

"Dengan perkembangan zaman sekarang, industri kosmetik juga memperluas target konsumennya, tidak hanya menyasar kaum wanita saja," tuturnya.

Selain itu, adanya tren masyarakat untuk kembali ke penggunaan bahan alam (back to nature) membuka peluang bagi produk jamu dan kosmetik berbahan alami untuk terus berkembang.

"Pemanfaatan teknologi dan kecerdasan digital mulai dari proses produksi hingga distribusi ke tingkat konsumen, tentu akan meningkatkan daya saing industri," paparnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Ferry A Soetikno mengungkapkan, Indonesia memiliki keragaman hayati yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku dari biofarmasi. Namun demikian, industri perlu terus melakukan riset untuk pengembangan inovasinya.

"Biodiversitas Indonesia terbesar di dunia, ada kunyit, temu lawak, kayu manis, tapi kami mulai cari yang memiliki nilai tambah yang lebih tinggi," ungkap dia. kbc10

Bagikan artikel ini: