Jadi motor, integrator diminta tekan harga telur di Rp19.500/kg

Kamis, 19 Juli 2018 | 18:03 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Integrator (perusahaan peternakan terintegrasi hulu hilir) didorong motor operasi pasar (OP) dengan melapas 100 ton telur dengan harga Rp 19.500 per kilogram (kg), jauh lebih murah dari harga di pasar ritel yang saat ini menembus Rp 30.000 per kg. Untuk pertama kali, OP dilepas diwilayah Jabodetabek dan kemudian daerah lainnya seperti Surabaya,

“Mulai hari ini sampai nanti harga telur stabil kembali, Kementan akan medistribusikan telur dengan harga Rp 19.500 per kg ke seluruh masyarakat Indonesia," kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat Pelepasan Telur Ayam Murah Rp 19.500 per kg di Toko Tani Indonesia Center, Jakarta, Kamis (19/7/2018).

Informasi yang diperoleh kabarbisnis.com, pasokan telur sebesar 100 ton tersebut mayoritas berasal dari integrator seperti PT Charoen Pokphan Tbk (30 ton), PT Japfa Comfeed Tbk (25 ton) dan Malindo. Selebihnya diisi Paguyuban Peternak Rakyat Nasional dan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Nasional (PINSAR) sebanyak 15 ton.

OP telur sebesar 100 ton ini, kata Amran akan didistribusikan di 43 pasar di Jabodetabek. Pasokannya berasal dari seluruh provinsi yang ada di Pulau Jawa. "OP ini kita lakukan setiap hari dengan harapan stoknya selalu bertambah. Tapi OP ini akan di stop apabila harga di pasaran sudah normal kembali, Rp 20.000 sampai Rp 23.000 per kg. Karena kalau tidak distop ketika harga sudah stabil, kasihan para peternak," terang Amran.

Adapun kegiatan operasi pasar telur ayam ini tidak hanya dilakukan di Jabodetabek semata karena dilakukan serentak di sejumlah kota besar di Indonesia melalui surat edaran yang dikeluarkan Kementan. Langkah ini diharap maksimal menekan harga telur ayam yang sekarang ini berada di level tinggi. "Operasi pasar bukan hanya di Jakarta saja tapi ada di beberapa lokasi seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan kota-kota besar. Sudah sepakat dan surat edaran sudah kita lakukan," tuturnya.

Mengenai stok telur yang masih tersedia, data dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Pertanian menyebutkan stok telur ayam masih mengalami surplus. Hingga Juni 2018, tercatat surplus telur mencapai 31.490 ton. Diperkirakan dari Januari-Desember 2018, ketersediaan telur bisa mencapai 1.732.952 ton. Sementara kebutuhan hanya 1.730.550 ton sehingga dipastikan terdapat surplus sebanyak 2.402 ton.

Amran mengakui kenaikan harga telur tak hanya berpengaruh di wilayah Jakarta Bogor Depok Tangeran dan Bekasi (Jabodetabek), namun hampir di seluruh Indonesia dan hal tersebut adalah anomali yang disebabkan oleh beberapa faktor. "Ini banyak faktor yang terjadi. Baik harga pakan, anomali iklim, hingga konsumsi masyarakat yang meningkat menyebabkan harga menjadi naik. Makanya OP telur murah ini dilakukan di seluruh Indonesia," tambah Amran.

Dengan adanya OP telur ayam murah, diharapkan mampu meredam gejolak masyarakat Indonesia akan kenaikan harga telur. Karena selama ini telur merupakan sumber protein yang paling banyak dikonsumsi masyarakat. "Telur ini sumber protein yang harganya paling terjangkau di masyarakat. Saya harap dengan adanya OP telur ayam murah kebutuhan gizi masyarakat akan protein tetap terpenuhi," pungkas Amran.

Sekjen PINSAR Ko Atung mengatakan peternak masih memperoleh sedikit margin Rp 500 kg, apabila menjual telur sesuai OP sebesar Rp 19.500 kg. "Harga Pokok Pembelian kita sekarang sebesar Rp 19.550 per kilogram,” kata Ko Atung.

Menurut Ko Atung ketersediaan telur nasional mengalami penurunan sekitar 20 % akibat sejumlah seperti pelarangan Antibiotic Growth Promotor pada pakan sejak 1 Januari 2018 ,virus H9N2 hingga liburan panjang anak sekolah yang membuat harga telur mencapai Rp 30.000 kg. "Tapi pasar merespon harga mulai menurun, dibeberapa lokasi dari awal pekan sudah Rp 26.000-Rp 27.000 per kilogram,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: