Ada perang dagang, ekspor komoditas RI bisa terganggu

Senin, 23 Juli 2018 | 09:50 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Dampak perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok sepertinya akan merembet kepada kemungkinan banjir barang Tiongkok ke Indonesia.

Namun di sisi lain, kekawatiran banjir barang ini dirasa tidak berpengaruh karena Indonesia lebih besar dari komoditi dibandingkan industri. “Banjir barang dari Tiongkok ini lebih banyak untuk produk mesin dan elektronik jadi seharusnya tidak berdampak besar,” ujar Edwin Sebayang, Head of Research MNC Sekuritas saat ditemui di Bursa Efek Indonesia, Jumat (22/7/2018).

Kekhawatiran banjir barang Tiongkok belum berdampak besarParamitra Alfa Sekuritas: Sektor batubara masih cerah di tengah pelemahan rupiahIHSG kekurangan sentimen positif dalam negeri sampai akhir Juli

Justru menurut Edwin, Indonesia lebih akan rawan terserang dari sisi barang komoditas, terutama komoditas pertanian dan perkebunan. Indonesia yang merupakan negara komoditas akan terancam jika barang ekspor komoditas ditutup oleh AS dan China.

"AS sudah mulai menetapkan tarif untuk produk pertanian. Ini karena defisit mereka di sana besar. Salah satu solusi adalah dengan berubah ke arah industri dari negara komoditas agar dapat bertahan," ujar Edwin.

Menurut Edwin, di kondisi ini, Indonesia cukup tertekan karena perang dagang dan pelemahan rupiah yang kian menjadi. Arah rupiah menuju Rp 15.000 per dollar Amerika Serikat pun semakin besar.

Di sisi lain hingga akhir tahun IHSG berpeluang menyentuh level 5.435 dengan target akhir tahun di level 6.210. Sentimen positif dirasa belum akan ada hingga akhir tahun dan hanya sebatas laporan keuangan.

Namun Edwin merekomendasikan beberapa saham yang dapat dikoleksi di kondisi ini seperti sektor batubara yaitu ITMG, INDY dan ADRO.

Serta JSMR, TLKM, ICBP dan ANTM bisa diperhatikan lebih lanjut. Selanjutnya untuk saham perbankan bisa dipertimbangkan masuk ke BBCA, BBRI, BBNI kemudian BMRI. Untuk BBTN harus sedikit waspada karena sentimen dari naiknya suku bunga dapat berdampak negatif ke properti dan KPR. kbc10

Bagikan artikel ini: