BEX-MCE Asia dukung green building dan masa depan digital

Kamis, 26 Juli 2018 | 08:04 WIB ET
Dari kiri: Representative, G-Energy Global Indonesia, Yosef Lim; Technical Director, ebm-papst SEA Pte Ltd, Carsten Ederer; Director APAC, Big Ass Fans, Brian Smith; Direktur DP Architects, Rida Sobana; Project Director Reed Exhibitions, Louise Chua; CEOGreen Building Council Indonesia, Surendro; Deputy Director SG Builds International, Eddy Susilo.
Dari kiri: Representative, G-Energy Global Indonesia, Yosef Lim; Technical Director, ebm-papst SEA Pte Ltd, Carsten Ederer; Director APAC, Big Ass Fans, Brian Smith; Direktur DP Architects, Rida Sobana; Project Director Reed Exhibitions, Louise Chua; CEOGreen Building Council Indonesia, Surendro; Deputy Director SG Builds International, Eddy Susilo.

JAKARTA, kabarbisnis.com: Masyarakat khususnya di perkotaan kian sadar akan penggunaan green building alias ramah lingkungan. Bahkan bangunan yang cerdas dan hijau diperkirakan mencapai 20-25 persen dari seluruh pasar bangunan di Indonesia pada 2025.

Akibat pertumbuhan populasi perkotaan yang melonjak dalam lima tahun terakhir, Indonesia diyakini membutuhkan solusi konstruksi yang hemat energi, minim dampak lingkungan, dan hemat biaya baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Sejalan dengan hal itu, Gerakan 100 Smart City yang diinisiasi Kementerian Komunikasi dan Informatika dan BAPPENAS berencana mewujudkan 100 kota tersebut menjadi online, tahun depan.

Hal ini ditegaskan CEO Green Building Council Indonesia, Surendro, dalam Media Briefing BEX Asia and MCE Jakarta 2018, di Kridangga Ballroom, Century Park Hotel, Jakarta, Selasa (24/7/2018)

Surendro mengatakan, urbanisasi yang begitu cepat dan kebutuhan untuk tumbuh secara berkelanjutan membuat Indonesia semakin banyak menyaksikan bangunan hijau dan cerdas meramaikan lanskap di dalam negeri. Inovasi sangat penting untuk memaksimalkan upaya berkelanjutan ini.

Guna mempertahankan momentum industri ini, kata Surendro, perlu ada kolaborasi berskala lebih besar antara pemangku kepentingan. Selain pembelajaran yang konstan mengenai teknologi terkini dan praktik terbaik yang membuat lingkungan hidup dan pekerjaan kita bertahan lama.

”Konferensi bangunan hijau yang diadakan pada skala lokal maupun global sangat penting bagi industri ini dan para profesional yang ingin memperoleh ilmu terbaru. Serta membantu para pemimpin dan pembaru di seluruh dunia untuk terus terhubung dan berbagi ide demi masa depan yang lebih hijau,”paparnya.

Seperti halnya seminar yang digelar pada kesempatan yang sama, bertemakan bertema “Indonesia: Building a Greener and Healthier City”. Acara ini, kata Surendro, mengumpulkan para pemimpin di industri untuk mendiskusikan tren bangunan terkini di Indonesia.

Topik terkait lainnya seperti bangunan pintar dan efisiensi energi, dua sasaran penting di masa mendatang yang sedang dibidik negara ini dibahas dalam seminar.

Seminar ini, menurut Surendro, juga sebagai pratinjau mengenai isu-isu yang ditekankan dan inovasi teknologi apa saja yang akan dibicarakan dalam pameran bertema Build Eco Xpo (BEX) Asia, pameran dagang terbesar di industri bangunan hijau (green building) di Asia Tenggara, dan Mostra Convegno Expocomfort (MCE) Asia, sebuah pameran HVAC-R, air, dan energi tingkat regional, yang akan diadakan pada September 2018 mendatang. BEX dan MCE Asia akan menyoroti upaya dan perkembangan terbaru dalam industri yang akan mendorong aksi perubahan iklim di kawasan.

Acara yang merupakan bagian dari Singapore Green Building Week (SGBW), BEX Asia, bersama acara-acara MCE Asia di lokasi sama, serta pertemuan tahunan International Green Building Conference (IGBC), akan menyambut 12.000 profesional, pemimpin, dan pembuat kebijakan dari seluruh industri bangunan.

Teknologi mengakselerasi perubahan menuju kota-kota berkelanjutan. Teknologi akan menjadi sorotan utama pada pameran yang akan digelar karena BEX dan MCE Asia akan menampilkan tema “Smart Buildings & Automation”. Pameran hadirkan merek terkemuka seperti Delta Energy, ebm-papst, Marko Tack, Overkiz, dan Tridium.

General Manager, Glutz, Peter Latscha, menilai, jalan menuju pembangunan berkelanjutan, upaya bersama yang mengharuskan pelaku industri bersatu mengembangkan solusi komprehensif di berbagai bidang yang berdampak pada masyarakat. Teknologi memperkuat upaya semua pemain, besar dan kecil, dan akan mempermudah siapapun untuk ambil bagian demi keberlanjutan gerakan ini.

Setelah sukses dengan Future Home pada tahun lalu, Surbana Jurong Consultants berencana kembali ke arena pameran BEX tahun ini. Mereka menyoroti bagaimana teknologi baru dapat membentuk masa depan pembangunan kota sekaligus mempengaruhi gaya hidupnya, menggerakkan orang menuju masa depan kuat yang rendah karbon, inklusif, dan ramah lingkungan.

BEX dan MCE Asia juga menampilkan tren yang berkembang di dunia internasional dengan menampilkan paviliun yang menyoroti inovasi mutakhir dari China, Jerman, Italia, Jepang dan Taiwan. Secara keseluruhan, BEX Asia dan MCE Asia akan menjamu lebih dari 450 perusahaan dari seluruh dunia.

Di tahun kesebelasnya pada 2018 ini, BEX Asia masih terus melakukan gebrakan dalam bidang pengembangan bangunan hijau. Pameran ini mengumpulkan beberapa pemimpin paling berpengaruh di Asia Pasifik ke dalam jaringan, terlibat dalam pertukaran ilmu, serta menginspirasi pengembangan strategi dan teknologi pembangunan ramah lingkungan yang terdepan. Pengunjung pameran akan menyaksikan berbagai inovasi bangunan yang menarik seperti berbagai penangkal api dan solusi perlindungan banjir dari Delta Technology. Solusi ini bertujuan untuk melindungi properti bangunan dan menyelamatkan penghuninya ketika terjadi bencana dan keadaan darurat.

Beberapa perusahaan baru yang ikut ambil bagian di BEX Asia 2018, diantaranya, AGC, Agsitech, Big Ass Fans, Dalian Allied Nanotech, Merawood, Millenium 3 Building Products, NAKA Corporation, Shandong Weihua Glass, dan The Floor Gallery.

Melengkapi BEX Asia adalah MCE Asia, menjadi tempat terbaik berbagi praktik dan solusi terbaik di empat sektor yakni pendinginan, air, energi terbarukan, serta pemanasan. Praktisi, konsultan, insinyur, dan manager fasilitas di industri HVAC-R akan menjadi yang pertama melihat berbagai pembaruan dari solusi terkini. Salah satunya, alat robotik pencuci saluran dari Amptec yang memanfaatkan teknologi ledakan es kering dari mitra teknologinya untuk membersihkan dan memelihara saluran dan ventilasi sekaligus menghemat waktu dan sumber daya.

Ini adalah solusi dari apa yang dikenal sebagai Sick Building Syndrome (SBS). Investasi dalam teknologi semacam ini berguna untuk menghadapi kurangnya tenaga kerja, sebuah persoalan lama dalam industri, serta menunjukkan jalan untuk kemajuan perusahaan kecil dan menengah lainnya.

Export Manager Quadra Indonesia, Andrian Tanoto, mengatakan, selama lebih dari 40 tahun, pihaknya fokus pada penyediaan bahan berkualitas untuk industri bangunan di seluruh dunia. Selama bertahun-tahun, pihaknya sukses memanfaatkan teknologi terbaik di dunia untuk meningkatkan produk seperti Quadra Surface, Sintered Slab.

”BEX dan MCE Asia adalah platform penting untuk terhubung dengan para pemain dan pemimpin di kawasan ini, karena kami terus tumbuh dan berinovasi. Kami akan hadir di Singapura pada September,” tambahnya.

Bersamaan dengan BEX Asia, akan diadakan seminar Green View gratis selama tiga hari. Seminar menampilkan praktik terbaik, penelitian terbaru, dan insight mendalam seputar inovasi bangunan berkelanjutan. Seminar yang dikurasi ini akan membantu praktisi industri mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang beragam topik seperti solusi arsitektur dan fasad, aplikasi dan sistem bangunan pintar, serta desain bangunan ramah lingkungan dan fitur-fitur inovatif.

Direktur Proyek, Reed Exhibitions, Lousie Chua menegaskan ketika diskusi berkembang dan semakin menonjolkan penggunaan teknologi, MCE dan BEX Asia berada pada posisi terbaik untuk mempromosikan pertukaran ide dan praktik yang diperlukan dalam memenuhi kebutuhan industri.

“Hal ini akan terus menjadi gelombang dukungan untuk menjadi pemimpin di era perubahan iklim, mendorong pemain di seluruh rantai nilai seperti arsitek, konsultan, kontraktor, insinyur, dan penyewa untuk bersama-sama secara holistik mengatasi masalah keberlanjutan dan memetakan jalan menuju masa depan,” demikian komentar Louise tentang kemajuan BEX dan MCE Asiia. kbc7

Bagikan artikel ini: