Orang Indonesia masih demen bayar pakai uang tunai

Jum'at, 7 September 2018 | 14:57 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Di tengah gencarnya upaya pemerintah dalam mengampanyekan gerakan nontunai, namun pembayaran tunai masih menjadi tulang punggung transaksi keuangan di Indonesia. 

Laporan “The G4S World Cash Report” yang dirilis oleh G4S menyebutkan bahwa 50-55 persen transaksi keuangan di Indonesia masih menggunakan metode pembayaran tunai. Hal ini juga ditemukan di 18 negara dari 24 negara yang disurvei untuk laporan ini, seperti India dan Thailand, yang masih banyak menggunakan sistem tunai dan cash on delivery.

G4S melakukan survei di 47 negara yang meliputi 75 persen populasi global dan lebih dari 90 persen Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dunia. Kesimpulan utama dari survei ini adalah kebutuhan akan transaksi tunai terus meningkat secara global, walaupun ada peningkatan pilihan pembayaran elektronik, termasuk mobile, dalam beberapa tahun terakhir.

Laporan ini menggunakan dua instrumen utama untuk mengukur peningkatan kebutuhan akan tunai, yakni rasio Peredaran Uang Tunai (CIC) terhadap PDB serta peningkatan penarikan uang tunai di negara-negara yang terlibat dalam survei.

Di Indonesia, selama kurun waktu 2012-2016, Peredaran Uang Tunai (CIC) tumbuh 53,1 persen menjadi Rp 528,53 triliun, sementara jumlah total penarikan uang tunai di ATM dalam periode yang sama meningkat sebesar 65,5 persen menjadi Rp 2.353 triliun.

Jumlah ATM di seluruh Indonesia pun mengalami peningkatan sebesar 54,3 persen dalam periode 2012-2016 menjadi 104.419 ATM. Di tingkat global sendiri, pertumbuhan jumlah ATM mencapai 11,2 persen setiap tahunnya.

Negara-negara Asia mencatatkan pertumbuhan rata-rata per tahun tertinggi yang mencapai 16,3 persen dengan China, Indonesia, dan Thailand sebagai tiga negara teratas dengan pertumbuhan jumlah ATM terbanyak.

Chief Executive G4S untuk Global Cash Jesus Rosano mengatakan, pembayaran tunai tetap menjadi bagian penting dalam ekonomi global sehari-hari. Hal ini karena uang tunai bebas digunakan dan selalu tersedia, bersifat rahasia, tidak bisa dibajak, dan tidak bergantung pada aplikasi perangkat ditelepon genggam.

Sejumah karakter unik ini menjadikan uang tunai tetap signifikan bagi masyarakat di benua manapun mereka tinggal. "Survei yang kami lakukan menunjukkan bahwa kebutuhan akan uang tunai masih terus tumbuh dengan pasti dan berpengaruh pada PDB. Masyarakat masih percaya pada uang tunai," ujar Rosano dalam keterangan resminya, Jumat (7/9/2018).

G4S World Cash Report juga menyimpulkan bahwa masyarakat di berbagai belahan dunia menggunakan beragam pilihan metode pembayaran. Tidak ada satu wilayah pun di dunia ini yang hanya menggunakan satu pembayaran yang sama, dan uang tunai tetap memegang peranan penting. 

“Karena uang tunai tetap menjadi pilihan pembayaran yang penting, maka sangat penting bagi dunia bisnis dan institusi untuk mengatur siklus uang tunai mereka secara efisien,” tambah Rosano. 

Meskipun uang tunai masih memainkan peran penting, satu sisi opsi pembayaran non-tunai pun tumbuh pesat. Transaksi kartu debit misalnya, tumbuh 84 persen di periode 2012-2016, sementara transaksi kartu kredit tumbuh 37,7 persen dan transaksi uang elektronik tumbuh 578,9 persen. kbc10

Bagikan artikel ini: