Demam crazy rich, Manulife hadirkan produk proteksi premium

Kamis, 20 September 2018 | 07:53 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pertumbuhan masyarakat kelas atas di Indonesia atau yang kini marak dengan istilah 'crazy rich' terbilang cukup tinggi. Bahkan, dalam lima tahun ke depan, jumlahnya diperkirakan meningkat lima kali lipat.

Data Global Wealth Report (2004-2022) yang dilansir tahun lalu menyebutkan, jumlah orang kaya di Indonesia pada 2017 mencapai sekitar 111.000 orang dengan aset 1,8 triliun dollar AS. Angka itu naik dari tahun sebelumnya yang sebanyak 105.000 orang. Diperkirakan, pada 2022 jumlahnya mencapai 180.000 orang.

Kondisi itu juga terlihat dari data penjualan mobil sport mewah di Indonesia yang tumbuh lebih dari 20 persen per tahun. Belum lagi penjualan barang mewah yang tiap tahunnya tumbuh sekitar 80 persen. 

Sayangnya, dari masyarakat kalangan atas itu, hanya 12 persen dari kekayaan mereka yang dialokasikan untuk asuransi jiwa. Belum lagi, banyak keluarga mapan yang sulit mewariskan kemapanan mereka ke generasi berikutnya.

Berdasarkan data Baker McKenzie (2017), lebih dari 50 persen bisnis keluarga di Asia dijalankan oleh generasi pertama, tetapi hanya 3 persen bisnis keluarga yang dijalankan generasi ketiga.

Dari kondisi itulah yang memacu Manulife Indonesia menghadirkan Manulife Prime Assurance (MPA), produk proteksi premium untuk individu high net-worth (HNW). “Siapa bilang orang mapan tidak ada masalah? Kemapanan bisa susut dan bisa jadi tidak ada yang diwariskan. Orang berduit belum tentu terbebas dari masalah keuangan, apalagi kalau bicara soal transfer generasi,” ujar Presiden Direktur dan CEO PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia (Manulife Indonesia) Jonathan Hekster melalui siaran pers, Rabu (19/9/2018).

Jonathan Hekster menjelaskan, produk yang diluncurkan itu sebagai perencanaan peninggalan keluarga melalui asuransi jiwa menyeluruh. Peluncuran MPA merupakan wujud komitmen berkelanjutan Manulife untuk melindungi seluruh keluarga Indonesia.

Ia menambahkan, salah satu tantangan bagi keluarga kelas atas adalah menyeimbangkan antara perubahan gaya hidup dan pengelolaan keuangan bagi persiapan keuangan di masa depan. Ada indikasi bahwa keluarga Indonesia membutuhkan bantuan mencapai keseimbangan itu.

Hal ini merujuk pada hasil survei Manulife Investor Sentiment Index 2016 yang menyebutkan bahwa investor Indonesia hanya mengalokasikan 12 persen dari kekayaan mereka untuk asuransi. Sementara itu, Jeffrey Kie menjelaskan, angka 12 persen alokasi untuk asuransi itu menunjukkan adanya peluang besar bagi industri asuransi. Apalagi, kata dia, pertumbuhan masyarakat kelas atas tidak terbendung. Jumlahnya terus meningkat.

“Orang-orang di level ini, tidak menyadari mereka juga butuh perlindungan. Mereka perlu melindungi kemapanan mereka dan kemapanan itu bisa dinikmati sampai generasi seterusnya,” tutur Jeffrey. 

Makanya, tambah dia, lewat produk proteksi MAP, Manulife ingin membantu keluarga mapan di Indonesia agar bisa mewariskan kemapanan itu untuk generasi penerus. Dia menambahkan, orang mapan kerap lupa bahwa ada risiko kehidupan yang menimpa. Risiko itu tidak memilih orang, jenis kelamin, status kaya atau miskin.

Makanya, lanjut Jeffrey, kemapanan itu seperti life style yang perlu terus dipertahankan. Ia menambahkan, dengan produk MPA memungkinkan keluarga Indonesia memiliki proteksi sekaligus perencanaan peninggalan atau warisan bagi yang terkasih. MPA didistribusikan melalui tenaga pemasar atau agen Manulife yang tersebar di 24 kantor pemasaran di seluruh Indonesia.

Jeffrey menjelaskan, produk itu memiliki manfaat meliputi perlindungan seumur hidup dengan uang pertanggungan mulai dari Rp 5 miliar atau sekitar 500.000 dolar AS. Lalu manfaat perlindungan medis eksklusif dengan layanan prioritas yang disebut MiAssist, perlindungan penyakit kritis untuk nasabah dan keluarga, serta manfaat tambahan untuk penyakit spesifik gender.

Sebagai informasi, sepanjang 2017 Manulife Indonesia meraih total premi dan deposit Rp 25 triliun atau naik 34 persen dari tahun 2016 yang sebesar Rp 18,6 triliun. Dana kelolaan asuransi syariah juga meningkat dari tahun 2016 sebesar Rp 2,3 triliun menjadi Rp 2,88 triliun pada 2017. Selain itu, dana kelolaan MAMI sebesar Rp 65,7 triliun.

“Posisi aset kami berada di tiga besar, DPLK juga top 3, begitu juga manajemen aset yang masuk tiga besar,” ujarnya. kbc10

Bagikan artikel ini: