Sabet gelar kementerian terbaik se-Asia Pasifik, pariwisata makin jadi sektor idola Indonesia

Minggu, 23 September 2018 | 14:52 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Industri pariwisata semakin menjadi idola di Indonesia. Semakin seksi. Pariwisata juga dianggap punya keunggulan. Karena mayoritas kegiatannya berada di sektor jasa. Selain itu, pariwisata merupakan komoditas yang paling berkelanjutan. Serta menyentuh hingga ke level paling bawah masyarakat. 

Tak hanya itu, tiap tahun performa pariwisata Indonesia terus menanjak. Grafiknya sangat kontras bila dibandingkan komoditas lain. Seperti minyak, gas, batu bara, serta kelapa sawit yang terus merosot.

"Sektor pariwisata Indonesia yang sangat menjanjikan. Sektor ini menjadi core business Indonesia. Pariwisata menjadi penyumbang PDB, devisa serta lapangan kerja paling besar dan mudah dan cepat," ujar Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Haryadi Sukamdani, Sabtu (22/9).

Ucapan Haryadi sulit dibantah. Sebab,  pada 2016, devisa pariwisata mencapai US$ 13,5 miliar per tahun. Hanya kalah dari minyak sawit mentah (CPO) sebesar US$ 15,9 miliar per tahun. Padahal pada 2015 lalu, pariwisata masih ada di peringkat keempat sebagai sektor penyumbang devisa terbesar.

Tahun 2017, sumbangan devisa dari sektor pariwisata melesat menjadi sekitar US$ 16,8 miliar. Angka ini diprediksi akan meningkat 20% menjadi sekitar US$ 20 miliar pada 2018.

"Sektor pariwisata Indonesia sendiri diproyeksikan mampu menyumbang produk domestik bruto sebesar 15 persen di tahun 2019. Yang artinya menghasilkan sekitar Rp 280 triliun bagi devisa negara. Serta dapat menyerap 13 juta tenaga kerja pada 2019. Lebih jauh, sektor pariwisata diyakini mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang lebih tersebar di seluruh negeri ini," terang Haryadi.

Semakin melesatnya sektor pariwisata, tidak terlepas dari terus meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisman ke Indonesia terus naik.

Pada 2017, wisman yang berkunjung sebanyak 14,04 juta orang. Torehan ini naik 21,88 persen dari tahun 2016 yang berada dikisaran 11,52 juta wisman.

"Ini juga berkat kerja keras semua pihak yang mampu mendongkrak indeks daya saing Pariwisata Indonesia. Dari peringkat 70 dunia di tahun 2013, meroket ke posisi 42 besar di 2017," ungkapnya.

Dengan paparan tersebut, Haryadi Sukamdani mengaku Kementerian Pariwisata sangat layak dengan penghargaan yang diraihnya. Yaitu Kementerian Pariwisata Terbaik 2018 di ajang TTG Travel Award.

Lantas apa yang membuat pariwisata Indonesia itu bisa begitu hebat? Begitu kuat? Dan melesat dengan cepat?

"Alasan utama, ada CEO Commitment. Ini yang ditunjukkan presiden selama memimpin kabinet kerja. Actionnya ada. Rekam jejaknya pun tercatat. Dalam memimpin kabinet kerja, Presiden tak ragu menetapkan pariwisata sebagai leading sector dan sekaligus core ekonomi bangsa," ungkap Menteri Pariwisata Arief Yahya

Presiden bahkan ikut memberi komando lewat penetapan 10 destinasi prioritas, atau yang sering dipopulerkan dengan istilah 10 Bali Baru. Sebarannya pun merata di seluruh Indonesia. Ada Danau Toba Sumatera Utara, Tanjung Kelayang Bangka Belitung, Tanjung Lesung Banten, Kepulauan Seribu DKI Jakarta, Borobudur di Joglosemar, Bromo-Tengger-Semeru Jawa Timur, Mandalika di Lombok, Komodo Labuan Bajo NTT, Wakatobi Sulawesi Tenggara dan Morotai Maltara.

Bukan itu saja, presiden pun tanpa ragu hadir langsung di banyak destinasi wisata. Melihat secara langsung kendala dilapangan. Destinasi Raja Ampat, Morotai, Labuan Bajo, Larantuka, Mandalika, Borobudur, Tanjung Lesung, dan Danau Toba adalah beberapa destinasi yang dikunjunginya.

Support besar pun diberikan kepada destinasi yang mengalami bencana. Sebut saja Bali yang langsung on ketika dikunjungi presiden ketika erupsi Gunung Agung. Atau pariwisata Lombok yang langsung bangkit setelah dikunjunginya.

Buat Menteri Pariwisata Arief Yahya, dukungan nyata Presiden itulah yang membuat pariwisata semakin maju.

“Itu menunjukkan komitmen yang tinggi dari Presiden Jokowi terhadap dunia Pariwisata. Tugas seorang CEO itu menentukan arah dan mengalokasikan Sumber Daya. Baik manusia (Orang Terhebat), maupun Budgeting (anggaran). Karena itu di pariwisita ditempatkan orang-orang terhebat dan disupport dengan anggaran, yang meskipun masih terbatas, tapi sedikit naik," ungkap menteri yang memimpin Kementerian Pariwisata Terbaik 2018 di Asia Pasifik itu. kbc10

Bagikan artikel ini: